Aroma kopi saset dan deru mesin fotokopi yang berisik selalu jadi latar suara favorit Andra di jam sembilan pagi. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah kubikal di ujung ruangan, tempat seorang laki-laki berkacamata sedang sibuk memilah kertas.
"Bram, tolong print-in ini, dong. Total seratus dua puluh halaman. Pakai kertas buram aja," kata Andra sambil menyodorkan sebuah flashdisk.
Bram menoleh, menghembuskan napas panjang tapi tetap meraih flashdisk tersebut. "Kebiasaan lu, Ndra. Laptop spek dewa begitu cuma jadi pajangan. Hari gini masih aja kudu nyium bau kertas kalau mau kurasi naskah."
"Mata gua cepet lelah kalau mandangin layar kelamaan. Sensasinya beda," sahut Andra santai, bersandar pada sekat kubikal.
Mesin printer di sudut ruangan mulai menderu, menarik kertas satu demi satu. Di lembar pertama yang keluar—halaman judul—terpampang dua baris kalimat dengan font tebal:
KELABU
Oleh: Rinai Senja
Bram melirik sekilas ke arah baki printer, lalu terkekeh. "Penulis ini lagi, Ndra?"
Andra tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, menatap baris nama pengarang yang sangat familier di matanya itu.
Mesin printer terus bekerja dengan ritme yang konstan, mengeluarkan lembar demi lembar kertas buram yang mulai menghangat. Andra memperhatikan baki printer sambil melipat tangan di dada.
"Delapan kali, Bram. Ini udah naskah kedelapan yang dia kirim ke gua," ujar Andra, nadanya terdengar antara heran dan kagum.
Bram menoleh, menatap Andra dengan dahi berkerut. "Delapan kali? Dan lu masih aja mau baca, Ndra? Padahal masalahnya kan bukan karena dia nggak bisa nulis. Lu sendiri yang bilang tempo hari kalau tekniknya oke."
Andra menghembuskan napas pendek, matanya masih tertuju pada lembaran yang terus keluar dari mesin. "Justru itu masalahnya. Dia tahu apa yang ingin dia katakan, tapi belum tahu bagaimana mengatakannya."
Bram langsung terkekeh geli, suara tawa khasnya memecah deru mesin fotokopi di dekat mereka. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menunjuk Andra dengan bolpen di tangannya.
"Mulai... mulai... filosofisnya keluar," goda Bram, menyenggol lengan editor di sebelahnya itu. "Udah deh, bilang aja lu emang punya tempat spesial buat penulis keras kepala kayak dia.”
"Dra, jadi nggak futsal nanti malam?" tanya Bram sambil mengambil tumpukan hasil print.
Andra belum sempat menjawab.