Lonceng di atas pintu Nook Coffee yang terletak di seberang area perkantoran itu berdentring pelit, tenggelam di antara deru mesin espresso dan riuh rendah obrolan pengunjung siang.
Di balik meja bar, Caca sedang sibuk meracik caramel macchiato. Gerakannya lincah, namun dibarengi dengan ekspresi wajah yang sangat ekspresif, bahkan cenderung konyol.
Saat menuangkan susu, dia memicingkan mata dan memonyongkan bibir, berkonsentrasi penuh seolah-olah sedang menjinakkan bom waktu.
"Ini pesanannya, Kak. Silakan dinikmati, semoga hari Anda menyenangkan!" ucap Caca dengan senyum termanis dan suara yang dibuat seramah mungkin kepada seorang pelanggan pria.
Namun, begitu pelanggan itu berbalik, senyum Caca langsung lenyap tanpa bekas. Bahunya langsung merosot ke bawah, digantikan oleh hembusan napas yang berat.
"Pesanan meja nomor delapan tuh, Cha! Tolong ya," seru Wina dari balik mesin kasir sambil menyodorkan selembar struk baru.
Caca melirik struk itu, lalu cemberut. Tangannya kembali bergerak meraih portafilter, mengisinya dengan bubuk kopi, lalu menekannya dengan hentakan bertenaga yang berlebihan.
"Hhhh... dapet pelanggan rewel lagi," gerutu Caca kesal, berbicara pada mesin espresso di hadapannya seolah benda mati itu bisa mendengarnya. "Dunia memang nggak adil. Orang-orang itu tinggal pesen, bayar, terus komplain kurang manis lah, kurang bold lah.
Mereka nggak tahu apa gimana pegelnya tangan gua dari pagi megang ginian!”
"Semangat, Cha. Jangan cemberut," tegur Mbak Ranti yang tiba-tiba melintas di belakang meja bar.
Suaranya datar, tanpa ekspresi, khas seorang manajer yang sangat irit bicara namun selalu tahu apa yang terjadi di bawah kendalinya.
Setelah mengucapkan dua patah kata itu, ia langsung berlalu ke ruang belakang.
Caca reflek menarik kedua ujung bibirnya ke atas, membentuk senyum paksa yang kaku, lalu menghembuskan napas pelan.
Tepat saat ia selesai menata pesanan meja nomor delapan di atas nampan, lonceng pintu kembali berdentring.
Seorang laki-laki masuk ke dalam coffee shop.
Penampilannya khas orang kantoran di jam istirahat siang, kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku, membawa sebuah tas kerja di satu bahu, dan wajah yang tampak agak letih.
Laki-laki itu adalah Andra.
Caca, yang belum pernah melihat wajah itu di antara deretan pelanggan setianya, segera mengambil buku menu.
Dengan langkah agak kikuk yang menjadi ciri khasnya jika bertemu orang baru, ia berjalan mendekati meja tempat Andra baru saja duduk.