Hujan pertama di tahun ini mengguyur kota dengan sangat deras. Dari balik jendela kaca ruangannya, Andra berdiri menatap air yang terjun bebas membasahi jalanan, sesekali diselingi kilatan petir yang menyambar di langit abu-abu.
Celana kainnya yang siang tadi terkena tumpahan kopi kini sudah berganti dengan celana cadangan yang lebih bersih.
Sebuah headset nirkabel terselip di telinga kirinya, mengalunkan musik instrumental yang samar. Sesekali, Andra berjalan kembali ke mejanya, membungkuk sebentar untuk memeriksa beberapa lembar naskah yang masih terbuka, lalu menegakkan tubuh sambil melirik jam tangan.
Jarum jam sudah melewati angka lima sore.
Bzzz... Bzzz…
Ponsel di atas meja bergetar, menampilkan satu notifikasi pesan masuk. Andra meraihnya, membaca sebaris teks dari Marsha di layar
lalu menghembuskan napas panjang. Ekspresi wajahnya mendadak agak tegang.
Ia segera bergegas melangkah keluar ruangan menuju lift.
Begitu sampai di lobi lantai dasar, hembusan angin dingin langsung menusuk kulit.
Di dekat pintu kaca besar, tampak Pak Soleh, petugas security yang sudah sangat akrab dengannya, sedang berjaga sembari memperhatikan rintik air.
"Pak Soleh," panggil Andra sambil berjalan mendekat.
Pak Soleh menoleh, lalu melempar senyum ramah. "Eh, Pak Andra. Belum pulang, Pak? Waduh, hujannya lagi awet banget ini."
"Iya nih, Pak. Boleh minta tolong, Pak?" tanya Andra.
"Minta tolong apa, Pak Andra? Siap, mangga," sahut Pak Soleh sigap.
Andra menunjuk ke arah area parkir luar. "Bisa tolong anterin saya pakai payung ke depan, ke mobil? Hujannya deras banget, takut basah kuyup."
Pak Soleh langsung meraih payung besar berwarna biru di pojok posnya. "Oh, gampang itu mah, Pak. Tapi kenapa nggak sekalian payungnya aja Bapak bawa? Enggak apa-apa, besok pagi tinggal dibalikin ke saya pas masuk kantor."
Andra menggeleng pelan sambil tersenyum.