Di kamarnya, Caca sedang meringkuk di atas kasur dengan hoodie tebal membungkus tubuhnya.
Udara dingin sisa hujan sore tadi merayap masuk lewat celah jendela, menciptakan atmosfer yang sebenarnya sangat nyaman untuk tidur, kalau saja isi kepala Caca tidak sedang berisik.
Ia menempelkan ponselnya ke telinga, wajahnya berkerut menahan kesal.
"Lu bayangin deh, Win, pas Mbak Ranti bilang, 'Cha, nanti mau pulang ke ruangan saya.' Mana mukanya datar banget lagi kayak tripleks!" umpat Caca setengah berbisik ke speker ponsel.
Suara kekehan Wina langsung terdengar renyah di ujung telepon. "Terus? Lu diinterogasi?"
"Gua udah siap mental kayak mau dieksekusi, tahu nggak!" cerosos Caca lagi, mengingat kembali momen menegangkan di ruangan manajernya tadi. "Mbak Ranti langsung pasang wajah serius terus bilang, 'Kamu itu wajah depan dari Nook Coffee, Cha. Kenyamanan pelanggan itu nomor satu.' Habis gua, Win. Habis beneran denger kalimat itu."
Wina malah makin tertawa terpingkal-pingkal di seberang sana, sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati pada nasib temannya.
"Lagian lu kok bisa-bisanya sih ngelamun pas jam sibuk kerja? Apaan sih yang bikin lu sekaget itu sampai numpahin kopi?" tanya Wina, nadanya mulai penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Caca terdiam sejenak.
Pandangannya perlahan beralih, melirik ke arah meja riasnya. Di sana, di samping jejeran botol kosmetik, tergeletak tumpukan kertas tebal yang belum selesai ia kerjakan—naskah novel miliknya.
"Itu..." Caca menggantung kalimatnya, jemarinya memainkan ujung tali hoodie.
"Ada sesuatu yang bikin gua kaget."
"Apaan? Jangan setengah-setengah dong kalau cerita," desak Wina.
Caca menggigit bibir bawahnya, lalu berucap sekenanya, "Meskipun agak kaku... ternyata orangnya manis juga, Win."
Tawa Wina langsung pecah seketika di ujung telepon, kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Oh, jadi lu terpesona sama cowok kantoran itu?"
"Tapi kok bisa-bisanya ya gua segoblok itu? Haduh!" Caca menepok jidatnya sendiri dengan bantal, meratapi kecerobohannya. "Dia pasti kapok datang ke Nook Coffee lagi. Padahal itu pengalaman pertama dia mampir ke kafe kita.”