Apa kabar, Pah?" tanya Andra sopan, melangkah mendekat.
"Cukup baik, Alhamdulillah," jawabnya sambil tersenyum.
Andra kemudian bergeser, menyalami satu per satu anggota keluarga Marsha yang lain, sementara ibunya Marsha sedang sibuk menata meja agar tidak terlalu penuh.
Setelah Andra mengambil posisi duduk yang nyaman di sebelahnya, Ayah Marsha kembali membuka obrolan. "Udah dua minggu nih, Dra, kamu nggak main ke rumah," celetuk beliau, nadanya setengah menyindir tapi tetap terdengar santai. "Jangan mikirin kerjaan terus di kantor. Sekali-kali kalau kamu butuh hiburan, mainlah ke rumah."
Andra melirik Marsha yang baru saja duduk di seberangnya, lalu menyahut dengan nada lempeng, "Hiburannya tiap hari, Pah," ucap Andra sambil menunjuk Marsha dengan dagunya.
Mendengar itu, Marsha langsung mengerucutkan bibirnya cemberut, menatap Andra dengan pandangan mengancam seolah bilang, 'Awas kamu ya nanti!'
Melihat interaksi sepasang kekasih itu, Ayah Marsha terkekeh geli. Suasana canggung yang sempat dirasakan Andra pun perlahan mencair, tepat saat beberapa pelayan mulai mengantarkan nampan-nampan besar berisi makanan tradisional ke atas meja bale.
Acara makan malam keluarga yang hangat itu pun resmi dimulai.