Di dalam mobil, keheningan mendadak menyelimuti Andra dan Marsha. Sepanjang perjalanan pulang, Andra hanya fokus pada kemudi dengan tatapan kosong, tenggelam jauh ke dalam pikirannya sendiri setelah obrolan berdua dengan Ayah Marsha tadi.
Marsha yang menyadari perubahan drastis itu terus memperhatikan raut wajah Andra dari samping. Perlahan, ia mengulurkan tangan, menyentuh dan menggenggam jemari Andra yang bebas dari setir.
"Ucapan Ayah... nggak ada yang ganggu kamu kan, Dra?" tanya Marsha lirih, terselip rasa cemas di matanya.
Andra menggeleng pelan. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba membuang beban yang menggelayuti dadanya. "Dia nggak salah, Sya," jawab Andra, suaranya tak kalah lirih. "Setiap orang tua... pasti punya keinginan buat anaknya bahagia. Termasuk ayah kamu." Andra memaksakan senyuman tipis menatap ke depan.
Marsha tertunduk sejenak, menatap genggaman tangan mereka. "Umurku udah gak muda lagi, Dra. Aku selalu ingin semuanya berjalan ngalir..." ucap Marsha pelan. "Tapi, waktu emang gak ngasih kita banyak pilihan."
Mendengar ucapan Marsha, Andra membalik telapak tangannya, membalas genggaman itu dengan lebih erat untuk menghangatkan suasana. "Besok aku akan menemui Ayah. Kamu nggak harus mikirin ini sendirian," ucap Andra menenangkan.
Setelah kalimat itu, suasana di dalam mobil kembali senyap. Hanya ada suara deru mesin dan aspal basah di luar.
Namun, keheningan itu pecah ketika Marsha tiba-tiba melontarkan pertanyaan.