Dari balik jendela besar Nook Coffee, Caca dan Wina berdiri bersedekah dada menatap jalanan di luar. Kebetulan sore itu pelanggan sedang sepi, menyisakan waktu luang bagi keduanya untuk sekadar melepas penat.
"Cha, coba deh lihat kakek tua yang pakai jaket cokelat itu," celetuk Wina, menyenggol lengan Caca dengan sikutnya.
Caca menggeser pandangan, memperhatikan seorang pria lansia yang berjalan lambat di trotoar seberang.
Dengan dagu terangkat dan nada sok tahu yang kental, Wina kembali berbisik, "Gua tebak, sebentar lagi kakek itu bakal masuk ke minimarket yang warna hijau itu."
Caca mengedipkan matanya beberapa kali, sangsi.
Di seberang sana ada dua minimarket yang berdiri berdampingan, lalu beberapa menit kemudian, langkah si kakek tua melambat dan berbelok tepat ke pintu kaca minimarket berlogo hijau, persis seperti perkiraan Wina.
Mulut Caca sedikit terbuka "Kok bisa, Win?"
Wina hanya melempar senyum misterius penuh kemenangan, lalu mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. "Wina, sang detektif abad ini," ucapnya bangga.
Namun, kekaguman Caca tidak bertahan lama. Detik berikutnya, pandangannya terkunci pada dua sosok pria berkesan formal yang baru saja keluar dari gedung kantor di seberang jalan, berjalan lurus menuju ke arah Nook Coffee.
Salah satu dari mereka adalah pria kaku berwajah dingin, sangat familiar di ingatan Caca, juga Wina.
Mata Caca membelalak sempurna. Wina yang menyadari perubahan ekspresi itu ikut menoleh, lalu menatap Caca dengan wajah yang mendadak tegang.
"Ini bahaya, Cha. Status darurat," bisik Wina, matanya bergantian menatap jalanan dan wajah sahabatnya.
"Aduh, Win... Mungkin cowok yang gua siram kemarin hari ini mau balas dendam," sahut Caca panik, meremas serbet kain di tangannya. "Lihat temannya yang badannya tegap itu. Dia bawa gengnya!"
"Fix, itu komplotannya," timpal Wina setengah berbisik.
Ehem!