Setelah mengulurkan sapu tangan, Andra tidak langsung bersuara. Pria itu hanya mengangkat telunjuknya, lalu mengetuk pipinya sendiri beberapa kali sebagai kode.
Caca bergeming, matanya mengerjap polos masih belum menangkap maksud gerakan itu.
Melihat kebingungan Caca, Bram yang duduk di seberang Andra akhirnya membuka suara. "Ada krim di pipi kamu," ucapnya santai dengan nada suara yang agak rendah, menyembunyikan senyum gelinya.
Seketika itu juga, udara di sekitar Caca rasanya lenyap. Wajahnya mendadak terasa panas, memerah padam hingga ke ujung telinga.
Refleks, ia melirik ke arah dinding kaca besar di sebelah kanannya. Benar saja, di pantulan kaca itu terlihat jelas coretan putih cream susu yang menghias manis di pipi kirinya.
Dengan rasa malu yang sudah di ubun-ubun, Caca buru-buru menyeka pipinya menggunakan sapu tangan pemberian Andra.