Petrichor

Irpan pauzi
Chapter #10

Naskah yang Berbeda

Sementara di area depan kafe, Bram menyesap kopinya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu kembali ke tatakan. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja.

"Gimana naskah Kelabu? Bagus?" tanya Bram membuka obrolan.

Andra terdiam sebentar, tatapannya tertuju pada pusaran hitam di dalam cangkirnya sendiri. Ia menggeleng pelan. "Masih ada beberapa kekurangan."

Bram mengangguk-angguk, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gua tadi sempat lihat dari anak-anak akuisisi, ada naskah baru yang menarik. Penulisnya bikin layout sampul sendiri, dan bentuknya unik banget. Coba deh lu cek email kantor sekarang."

Andra mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sinis. "Gua nggak nilai kelayakan naskah dari layout-nya, Bram. Mentang-mentang lu di bagian desainer, semua dilihat dari visual."

"Bukan cuma visualnya, Dra. Aneh aja. Gua langsung kepikiran lu." sahut Bram, nadanya mendadak serius. "Gua sempat baca sinopsisnya sekilas tadi."

Mendengar itu, rasa penasaran Andra akhirnya terusik juga. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan langsung membuka aplikasi email kantor. Jarinya bergerak lincah menggulir barisan pesan di kotak masuk, mencari kiriman naskah terbaru hari ini.

Bram ikut mendekatkan kepalanya, memperhatikan layar ponsel Andra yang menyala. Tak butuh waktu lama bagi Andra untuk menemukan email yang dimaksud.

Jari Bram menunjuk ke salah satu baris di daftar inbox. "Nah, yang itu. Pengirimnya atas nama Nara Maharani," ucap Bram.

Andra tertegun sejenak menatap nama itu di layarnya.

"Lu baca deh kalau sempet. Kayaknya bakal nyangkut di kepala lu.” desak Bram lagi, kali ini dengan nada suara yang sangat optimis.

Andra membuka lampiran file tersebut, mengeceknya sekilas, lalu sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya. "Unik," gumamnya pendek.

"Sinopsisnya dulu deh.” desak Bram lagi, makin bersemangat.

Lihat selengkapnya