Petrichor

Irpan pauzi
Chapter #11

Cerita yang Masih Ditulis

Lampu-lampu Nook Kopi satu per satu mulai dipadamkan. Caca baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya dengan kaus kasual dan bersiap untuk pulang.

Begitu ia melangkah keluar dari pintu kafe, Wina yang sudah berada di atas motor matic-nya langsung menoleh.

"Ca, bareng gua aja yuk!" ajak Wina setengah berteriak, sembari memanaskan mesin motornya.

Caca tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Gak usah, Win. Gua lagi pengen jalan kaki aja."

Wina mendengus, dahi berkerut heran. "Kebiasaan deh anak ini, suka banget ngelakuin hal aneh."

"Gua baru mau pulang bareng kalau lu ada acara nonton ke bioskop," seloroh Caca sambil terkekeh.

Wina menyunggingkan bibirnya, berpura-pura kesal. "Yee, dipalak dong gua. Yaudah, gua duluan ya, Ca!"

"Iya, hati-hati, Win."

"Yoi!" Wina menarik gasnya, lalu motornya perlahan membelah jalanan malam.

Jarak dari Nook Kopi ke rumah Caca memang tidak begitu jauh. Jika di pagi hari Caca lebih memilih naik ojek online atau angkutan umum demi mengejar waktu agar tidak terlambat, maka saat pulang kerja seperti ini, sesekali ia sengaja memilih berjalan kaki untuk menikmati sisa hari.

Caca berjalan santai menyusuri trotoar jalan yang mulai sepi. Beberapa kali ia mendongak, menatap langit sore yang tampak cerah, seolah sedang meminta langit untuk segera menurunkan hujan favoritnya.

Namun, saat langkah Caca baru saja melewati pembatas trotoar yang berpapasan persis dengan sebuah mulut gang, sebuah motor bebek tua mendadak muncul secara bersamaan dari dalam gang tersebut.

Motor itu sempat mengerem mendadak agar tidak menyerempet Caca.

Caca reflek menghentikan langkahnya. Pandangannya langsung tertuju pada pengendara motor tua itu.

Karena si pengendara hanya mengenakan helm half-face terbuka tanpa kaca, wajahnya terlihat jelas di bawah temaram lampu jalan.

Caca memicingkan mata, mendadak ingatan di kepalanya berputar, mencoba mengingat-ingat sosok asing yang terasa familier itu.

Sebelum Caca berhasil menebak, Laki-laki di atas motor tua itu tiba-tiba menyunggingkan senyum tipis, lalu berceletuk datar, "Pawang hujan, katanya.”

"Fadly?" ucap Caca, memastikan dugaannya.

Cowok di atas motor itu hanya tersenyum ramah.

Lihat selengkapnya