Pagi itu, ketenangan kamar Caca pecah berantakan. Tepat sekitar jam setengah delapan, suara gedoran pintu yang berkali-kali dari luar terdengar begitu nyaring.
"Cha! Caca! Bangun, Cha!" teriak bibinya dengan suara melengking keras.
Sontak, Caca langsung terduduk tegak di atas ranjang. Dengan muka sekusut bantal dan rambut yang acak-acakan mirip sarang burung, ia mengucek kedua matanya dengan telapak tangan, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
"Iya, Bi! Caca udah bangun!" sahut Caca keras, suaranya masih serak.
"Coba lihat jam berapa sekarang, Cha!" sahut bibinya lagi dari balik pintu.
Caca menolehkan kepalanya malas ke arah meja rias, menatap jam kecil yang berdiri di sana.
Detik berikutnya, mata Caca melotot sempurna. Jantungnya serasa copot.
"Astagfirullah, kesiangan, Bi!" pekik Caca histeris.
"Dari tadi Bibi bangunin kamu ya, kamunya aja yang ngebo!" sahut sang bibi dari luar sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.
Caca menepuk jidatnya keras-keras, lalu dengan gerakan super cepat, ia melompat dari ranjang, menyambar handuk yang tergantung, dan langsung melesat ke kamar mandi seperti kilat.
Selesai mandi kilat yang tak sampai lima menit, suasana kamar Caca berubah jadi seperti kapal pecah.
Ia memakai seragam kerjanya dengan terburu-buru, mengancingkan baju asal-asalan sambil sebelah tangannya sibuk menyisir rambut yang masih basah.
Dengan raut muka kesal dan panik yang amat kentara, ia menyambar tas kainnya di atas meja, lalu buru-buru memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa sempat membetulkan talinya dengan benar.
"Bi! Caca berangkat! Makasih udah bangunin!" teriak Caca setengah berlari keluar rumah.