Petrichor

Irpan pauzi
Chapter #13

Komplotan Penerbit

Caca masih terdiam bingung, namun Bram tiba-tiba nyeletuk dari balik helmnya, "Itu komplotan yang satunya lagi," ucapnya jenaka.

Seketika Caca langsung terkekeh geli di jok belakang, menyadari kalau Bram sedang membalas istilah 'komplotan' yang ia gunakan tadi.

Sesampainya di depan Nook Coffee, Vespa matik Bram berhenti dengan mulus. Caca langsung bergegas turun, melepas helmnya, lalu menyerahkannya kembali ke Bram. "Makasih banyak ya, Kak Bram!" ucap Caca sambil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.

"Iya, sama-sama," sahut Bram sambil menerima helm tersebut. "Tapi panggil Bram aja, jangan pakai 'Kak'."

Caca langsung membentuk gestur huruf 'O' dan 'K' dengan jari tangan kanannya sebagai tanda setuju.

Begitu Bram berlalu membelokkan Vespanya menuju gedung kantor di seberang jalan, Caca melirik sekilas jam di ponselnya.“Sial, tinggal dua menit lagi!.”

Ia langsung berbalik dan bergegas masuk ke dalam kafe, menyelinap ke balik konter, dan menyambar celemek kainnya dengan gerakan super cepat.

Wina yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Caca dari balik mesin espresso langsung menghampiri dengan mata membelalak panik. "Lu tadi diculik komplotan orang-orang penerbit itu, Cha?!" Menodong seketika tanpa basa-basi.

Caca melirik tajam ke arah Wina sambil mengikat tali celemek di pinggang. "Kesiangan gua, Win! Hampir aja telat. Untung tadi Bram mau barengan nganterin pas dia berangkat ke kantor."

Lihat selengkapnya