Siang harinya, sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Caca yang tergeletak di dekat meja kasir.
Ia membuka layar dan mendapati sebuah pesan singkat dari Bram.
Isinya: "Ca, pesen dua kopi ya. Bikin yang spesial kayak kemarin. Nanti kalau udah jadi, titipin aja ke Pak Soleh di bawah."
Caca tersenyum tipis melihat pesan itu, dan kembali menyimpan ponselnya ke saku.
Wina yang sedari tadi berdiri di pinggir konter langsung menyipitkan mata, menangkap basah sunggingan senyum di wajah sahabatnya.
"Dari siapa tuh? Senyum-senyum sendiri," tanya Wina penasaran, nadanya langsung berubah interogatif.
"Bram," jawab Caca singkat tanpa beban.
Mendengar nama itu, radar kecurigaan Wina langsung menyala penuh. "Tuh, kan! Fiks, ada sesuatu nih di antara kalian berdua. Pasti ada apa-apanya deh!" tuding Wina berapi-api.
Caca mendelik tajam, lalu berbisik penuh penekanan, "Dia udah punya istri, Win. Udah punya anak malah!"
Wajah Wina justru berubah makin panik. "Wah, bahaya lu, Cha! Bahaya itu... kelewatan!" pekiknya tertahan.
Muka Caca langsung cemberut kesal. "Maksud gua, gua nggak mungkin punya hubungan apa-apa sama dia selain temen, Wina detektif gadungan!" omel Caca gregetan.