Tepat setelah keluar dari ruangan Marsha, Andra berjalan menuju sudut koridor yang lebih sepi.
Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu menghubungi salah satu penulis yang sedang ia tangani.
"Halo, Mas Adian, sedang sibuk tidak?" ucap Andra begitu panggilan tersambung.
Halo, Pak Andra." Ucap Adian di ujung telepon
"Selamat dulu ya, Mas. Buku pertama kemarin responnya bagus.”
"Iya, Pak Andra. Ada apa?" jawab Adian dengan nada penasaran.
"Maaf mengganggu waktunya sebentar, Mas Adian. Saya mau membahas tentang naskah kedua Anda yang berjudul Jejak Aktivis."
"Oh, iya. Bagaimana, Pak Andra?" tanya Adian, terdengar antusias namun juga penasaran.
Andra berdehem pelan. "Naskahnya sudah saya cek secara keseluruhan. Isinya memang bagus, Mas Adian. Tapi, ada beberapa bab yang menurut pandangan kami perlu dihapus atau diedit cukup besar."
"Maksudnya bagaimana ya, Pak?"
"Bab tentang konflik konservasi dengan perusahaan tambang... bisa nggak kalau dihapus saja, Mas?”
Mendengar itu, Adian di ujung telepon langsung menyela dengan nada keberatan. "Wah, kalau bagian itu justru inti dari seluruh isinya, Pak Andra! Saya melakukan riset bertahun-tahun, dan biaya yang saya keluarkan juga lumayan besar."