Malam itu, suasana rumah benar-benar hening. Caca melangkah dengan sangat hati-hati, tumit kakinya ia angkat tinggi-tinggi agar tidak menimbulkan bunyi di atas lantai kayu.
Begitu sampai di area meja makan, matanya langsung tertuju pada sebuah piring yang tertata di tengah meja.
Di sana, sepiring kue terlihat begitu menggoda di bawah cahaya lampu dapur yang redup. Perut Caca sontak mengeluarkan bunyi protes, membuatnya tak tahan lagi.
Ia segera mendekat, tangannya terulur mengambil dua potong kue yang paling besar.
Bruk.
Ia hampir saja menjatuhkan kue itu saat tiba-tiba suara dari arah belakang membuatnya membeku.
"Ambil semuanya, Ca... itu memang buat kamu."
Caca memalingkan wajahnya dengan kaku ke belakang. Ternyata Bibinya sedang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan senyum geli yang tertahan.
"Tadinya Bibi mau anterin ke kamar, tapi Bibi belum sempat," sambung Bibinya.
Ekspresi puas di wajahnya berubah menjadi kekecewaan yang dramatis. "Haaah, Bibi nggak seru banget, deh!" serunya cemberut. "Biarkan misi pencurian ini berhasil dulu, Bi! Kan seru kalau ada dramanya."
Melihat tingkah keponakannya, Bibinya terkekeh dan menepuk pinggul caca.
Setelah misi pencurian kue yang gagal total itu, Caca melangkah balik ke kamarnya dengan membawa piring berisi barang jarahan yang gagal.