Caca melihat keadaan Andra dan sempat kaget. Refleks, ia langsung bertanya dengan nada panik, "Kenapa, Kak...?"
Namun, Andra tidak menjawab.
Badannya kini menggigil hebat, serta raut ketakutan yang begitu pekat tercetak jelas di mukanya.
Di tengah napasnya yang memburu, Andra berusaha memberikan kode ke Caca, menempelkan jari telunjuknya ke bibir sendiri.
Melihat kondisi Andra yang tampak ketakutan, dengan sedikit rasa ragu, akhirnya Caca melangkah mendekat.
Ia berdiri di pinggir tempat Andra berada. Entah dorongan apa yang membuat Caca melakukan itu.
Namun di balik suara hujan yang mendesing deras dan suara petir yang terus bersahutan di luar, mereka berdua kini terjebak di dalam ruangan gelap yang sama.
Caca perlahan mengulurkan tangannya, lalu menempelkan telapak tangannya ke pundak Andra.
Melalui sentuhan itu, Caca merasakan dengan jelas bagaimana badan Andra bergetar hebat.
Caca menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang yang selama ini dinilai semua orang terlihat begitu kuat, kaku, dan teratur di luar... kini justru terlihat sangat rapuh dan tak berdaya tepat di depannya.
Suasana mencekam itu bertahan cukup lama. Caca hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri.
Hingga kemudian, suara gemuruh hujan di luar mulai berangsur mereda, seiring dengan badan Andra yang perlahan-lahan mulai rileks.
Jemarinya yang sejak tadi mengepal perlahan mengendur.