Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #30

Homey

Setelah semua proses memasak yang penuh drama itu beres, Caca mulai memindahkan telurnya ke atas piring saji dengan penuh kehati-hatian.


Hasilnya lumayan rapi, meskipun Tasya yang berdiri di sampingnya langsung memberikan penilaian jujur.

"Nilai tampilannya enam, Ca," ucap Tasya sambil menahan senyum.


Caca langsung tidak terima. Ia menegakkan bahu, membela diri dengan rasa percaya diri. "Tampilan itu cuma bonus! Tampilan boleh enam, tapi rasa jelas sembilan!" ucapnya, menatap piring itu seakan-akan makanan di depannya adalah sebuah mahakarya kuliner.


Dengan langkah tegap dan senyum lebar, Caca membawa piring mahakaryanya menuju meja makan, langsung menunjukkannya ke depan wajah Bram.

"Nih, Bram. Cobain. Masakan pawang hujan," tantang Caca, menyuruh Bram mencicipinya saat itu juga.


Bram menatap telur balado kecap pedas di depannya dengan pandangan sangsi. Namun, bukannya langsung meraih sendok, Bram justru menautkan kedua tangannya di depan dada. Ia memejamkan mata, komat-kamit merapalkan doa dengan sangat khusyuk sebelum mencicipi makanan itu.


Selesai berdoa, Bram menoleh ke arah istrinya yang berdiri di ambang pintu dapur. "Sya, kalau setelah ini terjadi apa-apa sama gua... tolong langsung panggil ambulans, ya," ucap Bram dengan wajah datar tanpa dosa.


Lihat selengkapnya