Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #34

Sudah sembilan tahun

Caca langsung memicingkan matanya, menoleh ke arah Andra. Ia tahu persis siapa yang dimaksud "sirine" oleh Andra.

"Gak boleh bikin kegaduhan, Takut disangka mobil ambulans kalau sirinenya bunyi," sahut Caca ketus.


Sudut bibirnya Andra terangkat tipis, mencairkan sedikit ketegangan di dalam kabin sedan itu.

"Terima kasih ya, Ca," ucap Andra beberapa saat kemudian, memecah kesunyian lagi.


Caca mengernyit. "Untuk...?"


“Nemenin maen PS," jawab Andra tenang.

Caca terdiam sejenak.


"Oh... iya, sama-sama. Tapi kalau ngajak lagi, gak gratis ya. Harus bayar, minimal nonton di Bioskop" sahut Caca.


Andra hanya tersenyum sekilas tanpa membalas, matanya tetap memperhatikan jalanan malam yang mulai sepi.


“Berhenti di depan aja," pinta Caca tiba-tiba saat mobil mendekati sebuah persimpangan. Rumahnya memang cukup dekat dari rumah Bram. "Di belokan masuk ke gang depan itu," tunjuk Caca.


Ia kemudian menegaskan dengan nada ketat, "Dan gua gak ngajak lu mampir ya. Karena gua gak punya rumah."


Andra mengabaikan ketegasan Caca, justru kalimat terakhir Caca itu yang menyentil rasa penasarannya. Ia melirik sekilas. "Terus sekarang mau pulang ke mana?"


"Panti Asuhan Sinar Kasih," ucap Caca.


Mendengar nama panti itu disebut lagi, ingatan Andra langsung terlempar pada candaan asal Bram di meja makan tadi.


Lihat selengkapnya