Tanpa memberikan aba-aba atau penjelasan lebih lanjut, Andra melangkah maju.
"Eh—eh! Mau ke mana, Ndra?!" protesnya tertahan. Namun, kakinya entah kenapa terpaksa melangkah pasrah, mengikuti ritme langkah kaki Andra yang bergegas membawanya keluar dari toko buku tersebut.
Andra menembus keramaian mall menuju lantai paling atas. Caca yang terengah-engah mengikutinya baru menyadari ke mana mereka pergi saat karpet tebal merah dan aroma khas berondong jagung menyengat indra penciumannya.
Andra berhenti tepat di depan sebuah poster film berukuran besar yang terpajang di dinding kaca.
"Film ini adalah adaptasi dari novel yang pernah aku tangani beberapa tahun lalu," ucap Andra, pandangannya lurus menatap poster tersebut. "Dan kebetulan sekarang lagi tayang. Ceritanya bagus."
Caca tertegun, menatap Andra dari samping dengan tatapan tidak percaya.
Ia kaget dengan perubahan drastis Andra kali ini. Pria yang selama ini ia kenal dingin, kaku, dan cuek setengah mati, tiba-tiba menyeretnya ke bioskop hanya untuk memamerkan sebuah karya yang ia banggakan.
Momen ini mendatangkan sebuah kilas balik di ingatan Caca.