Beberapa bulan setelah kejadian malam itu, rutinitas kantor berjalan seperti biasa. Pagi ini, Andra melangkah masuk ke dalam gedung dengan tas kerja di pundaknya.
Namun, baru saja ia melewati pintu lobi, langkahnya langsung tertahan. Marsha sudah berdiri di sana, seolah sengaja menghadang jalurnya.
Andra sedikit terkejut, namun ia menguasai ekspresi wajahnya dengan cepat.
Belum sempat Andra menyapa, Marsha tiba-tiba mengulurkan tangan, menyerahkan selembar undangan tebal berwarna merah marun ke hadapan Andra.
Andra terdiam sesaat, memandangi undangan tersebut sebelum akhirnya menerimanya dengan perlahan.
"Kamu datang ya, Dra..." ucap Marsha lirih.
Andra tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sembari melemparkan senyum.
Sementara itu, suasana di dalam ruangan kantor mendadak berubah ramai. Selama ini, orang-orang di kantor sama sekali tidak tahu bahwa hubungan asmara Andra dan Marsha sudah kandas sejak lama.