Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #47

Rumah yang Bernama Ibu

Andra duduk di bangku taman saat suara langkah kaki mendekat. Caca muncul, menyodorkan kaleng minuman dingin dan beberapa butir jeruk.


"Buat nambah vitamin C," ucap Caca singkat.


Andra terkekeh pelan sebelum menerimanya. "Habis jarah dari mana?"


Caca menunjuk minimarket di seberang jalan dengan dagunya. "Filmnya tadi kurang bagus. Gue nggak bisa pura-pura nangis, kurang dukungan suasana."


Andra memperhatikan jeruk di tangan Caca, lalu beralih ke kopi yang sedang ia minum. "Sejak kapan kamu makan jeruk malam-malam bareng kopi?"


Caca tertawa kecil sembari duduk di samping Andra. "Emang makan jeruk ada aturannya? Harus sama apa temennya, Dra?"


Caca terdiam sejenak, matanya menatap kulit jeruk itu lekat. "Jeruk itu kesukaan ibu gue dulu. Kalau habis dari hajatan, atau habis kerja jadi pawang hujan, dia pasti bawa jeruk banyak. Buat stok, katanya."


Andra melirik Caca yang tengah mengupas jeruknya. "Gue punya pohonnya di belakang rumah," lanjut Andra. "Ibu yang nanam dulu."


Caca berhenti mengupas. Ia tersenyum tipis, menatap Andra dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ternyata ibu kita punya selera yang sama."


Caca meneguk minumannya, lalu suasana taman menjadi hening. Hanya suara kendaraan yang lewat samar-samar di kejauhan.

Lihat selengkapnya