Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #48

Yang Tersisa

Sore itu, suasana ruang tengah terasa menyesakkan, seolah udara tersedot keluar oleh ketegangan yang menggantung.


Caca berdiri kaku, napasnya naik-turun tak beraturan. Di atas meja kayu tua itu, selembar surat tergeletak—menjadi pusat yang menghancurkan segalanya.


Kertas itu sudah kusut di sudut-sudutnya, seolah berkali-kali dibuka lalu ditutup kembali.


Di tengah halaman, sebuah cap merah bertuliskan PERINGATAN TERAKHIR tampak mencolok.


Caca menatap surat itu, lalu beralih ke Bibinya yang duduk merosot di sofa, bahunya bergetar hebat. Wajah Caca datar, dingin, namun sorot matanya menyimpan badai yang siap meledak.


Caca menggeser surat itu dengan ujung jarinya, mendorongnya pelan ke arah sang Bibi.


"Kenapa Bibi nggak bilang?" suaranya rendah.


"Bibi... Bibi minta maaf, Ca," jawab Bibinya lirih. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan. "Bibi terpaksa”


Lihat selengkapnya