Pagi itu, udara di teras rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Keheningan yang menggantung di antara Caca dan Bibinya seolah menjadi tembok yang tak kasat mata.
Saat berpapasan di ambang pintu, Bibinya menahan langkah.
"Sudah sarapan, Ca?"
Caca hanya menoleh sekilas, tatapannya kosong. Ia hanya mengangguk tipis tanpa mengeluarkan suara, lalu melangkah pergi begitu saja.
Bibinya tetap berdiri di ambang pintu. Jemarinya saling menggenggam erat, seolah ingin memanggil Caca sekali lagi. Namun, hingga langkah gadis itu menghilang di ujung jalan, tak satu kata pun berhasil keluar dari bibirnya.
Sesampainya di Nook Coffee, suasana masih sepi. Caca memulai rutinitasnya dengan wajah yang kusut, nyaris tanpa ekspresi. Sapu di tangannya bergerak tanpa semangat, menyisir debu di lantai dengan gerakan yang lesu.
Mbak Ranti, sang manajer, memperhatikan gerak-gerik Caca dari balik meja kasir. Melihat Caca kesulitan menggeser meja kayu yang berat di pojok ruangan, Mbak Ranti beranjak mendekat.
Tanpa banyak bicara, ia membantu Caca menggeser kursi dan meja tersebut ke posisinya.
"Makasih ya, Mbak Ranti," ucap Caca pelan.
Dengan tatapannya yang tajam dan tegas, ia memandangi wajah Caca yang tampak lelah.
"Kamu nggak apa-apa, Ca?"
Caca tersenyum tampak kaku. "Nggak apa-apa kok, Mbak."
Tak lama berselang, lonceng pintu berbunyi.