Hari-hari setelah kejadian itu berlalu dengan sisa-sisa kehampaan yang menetap. lalu kembali diam. Wina, yang biasanya menjadi lawan debat paling berisik bagi Caca, kini hanya bisa terdiam mengamati perubahan itu.
"Pawang hujan," celetuk Wina tiba-tiba di sela kesibukan siang itu.
Caca melirik sekilas, matanya tidak memancarkan binar seperti biasanya. "Apaan?"
"Gue ngerasa ada yang nggak beres sama lu, Ca," Wina menatap lekat sahabatnya itu. "Kurang berisik. Lu tuh kayak lagu yang tiba-tiba di-mute."
Caca menghela napas panjang, tatapannya menerawang. "Gue lagi nggak pengen bawel, Win."
Wina mencoba mencairkan suasana dengan gaya khasnya. "Entar abis pulang kerja, bakso yuk? Gue traktir, deh!" Wina mengedipkan sebelah matanya, mencoba menarik senyum dari wajah kaku Caca.
"Gua lagi males," jawab Caca datar, nyaris tanpa emosi.
Belum sempat Wina membalas, ia tiba-tiba mencolek bahu Caca cukup keras, dagunya menunjuk ke seberang jalan. Caca refleks menoleh. Jantungnya seolah berhenti sejenak saat melihat sosok Andra dan Bram sedang melangkah menuju kafe.
Wajah Caca berubah pucat. "Win... tolong layani mereka ya. Gue ke belakang," pintanya cepat, suaranya terdengar panik.
"Tumben?" Wina mengerutkan kening, bingung.