"Kakak Caca, sini main!" suara mungil Dafa terdengar nyaring di ujung telepon.
Melihat wajah polos Dafa di layar, senyum Caca kali ini terasa sedikit lebih nyata, meski getir.
"Wah, iya ya, Daf. Kita udah lama banget nggak main bareng."
"Iya, Dafa main sama Bunda," celetuk Dafa dengan polosnya.
Kalimat sederhana itu menghantam dada Caca. Ia memalingkan wajah sedikit, berpura-pura mengatur posisi ponsel agar Bram tidak melihat perubahan ekspresinya.
"Minggu ini kita main, ya?" suara Caca sedikit parau.
"Iya, main sini!" jawab Dafa penuh semangat.