"Sekarang ibumu di mana, Dra?" tanya Caca pelan, rasa penasarannya mengalahkan rasa dingin yang tadi sempat ia bangun.
Andra menggeleng pelan. "Dia pergi semenjak aku kecil."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
"Mau minum apa, Ca? Kopi atau teh?" tanya Andra memecah lamunan.
Caca tidak menoleh, "Terserah kamu aja, Dra."
Andra mengangguk sekali, lalu berbalik dan meninggalkan Caca sendirian di teras.
Sepeninggal Andra, Caca membiarkan dirinya tenggelam dalam lamunan. Ia memperhatikan bagaimana sinar matahari sore yang mulai meredup menyinari daun pohon jeruk itu.
Beberapa saat kemudian, Andra meletakkan nampan kayu ke meja. Uap tipis dari dua cangkir teh meliuk-liuk, menari sebelum hilang ditelan udara senja. Ia mendudukkan diri, menarik tote bag kain ke atas pangkuan, lalu tangannya terdiam sejenak di atas permukaan meja yang berserat kayu tua.
"Ini teh baru yang aku beli, cobain deh, Ca?"
Caca tidak menjawab. Ia memutar kepalanya, membiarkan pandangannya lepas dari sosok Andra,
Lalu Caca menyesap tehnya. Cairan hangat itu meluncur ke tenggorokannya, namun rasa pahit yang tertinggal di lidahnya terasa jauh lebih pekat.
Ia meletakkan cangkir itu kembali ke piring tataknya dengan denting porselen yang pelan, nyaris tak terdengar.
“Gimana rasanya?”