Caca memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu merapikan plastik pelapis tumpukan kertas di pelukannya. Ia menarik ujung-ujung plastik itu hingga kencang, memastikan tidak ada celah bagi air untuk menyusup ke lembaran sembilan tahun miliknya.
Hujan mulai mengetuk aspal dengan tempo yang tak beraturan, lalu dalam sekejap, tirai air turun dengan kasar.
Caca menarik napas dalam, membiarkan dinginnya air yang menembus jaket menampar kulitnya.
Langkahnya mulai terayun, konstan dan berat. Sepatu kainnya basah dalam hitungan detik, menciptakan bunyi yang ritmis di atas trotoar yang mulai tergenang.
Berjalan di bawah remang lampu jalan, memeluk naskah itu tepat di bawah jaketnya, Air hujan mengalir dari ujung rambutnya.
Meski dingin mulai menggigit tulang bahunya, ia tidak mempercepat langkahnya, hanya menghitung langkah kakinya, satu per satu, membiarkan hujan membungkusnya sepenuhnya, seolah hujan sedang menghapus jejak keberadaannya di rumah Andra.
Yang tertinggal hanyalah dirinya yang basah kuyup, namun perlahan terasa lebih ringan setiap melangkah menjauh.
Sementara itu di rumahnya, Andra bergerak cepat, menarik daun jendela satu per satu hingga dentum kaca yang beradu dengan kusen terdengar memekakkan.
Gorden-gorden tebal ia tarik rapat, memutus pandangan ke dunia luar yang mulai ditelan badai.
Ruangan itu kini terasa kedap, terisolasi, namun detak jantungnya sendiri masih terasa berisik di dalam kepala.
Dengan terburu-buru ia menyalakan televisi di ruang tengah, menaikkan volumenya hingga suara penyiar berita tenggelam dalam kebisingan statis, mencoba menipu telinga sendiri agar tidak mendengar suara hujan yang menghantam atap.
Di atas meja, kotak headset pemberian Caca terbuka. Andra meraihnya, namun jemarinya justru gemetar beberapa kali meleset saat mencoba mencolokkan kabel headset itu ke ponselnya.
Baru pada percobaan ketiga, alunan musik akhirnya terdengar, memenuhi rongga telinganya.
Saat ia ingin meraih remote televisi untuk mengecilkan suara, tangannya yang tak stabil membuat benda itu tergelincir dan jatuh ke lantai.
Andra membungkuk memungutnya, napasnya memburu, seolah udara di dalam rumah yang tertutup rapat ini mendadak menipis, menyusut tersedot badai di luar.
Setelah beberapa saat yang membuatnya tidak nyaman, ia mematikan televisi, membiarkan ruangan itu kembali hening kecuali musik yang terus mengalun di telinganya.
Namun aneh. Musik itu gagal menenggelamkan suara hujan. Derunya tetap terdengar, entah merembes dari sela kusen yang kurang rapat, atau memang berasal dari dalam kepalanya sendiri.