Aroma house blend yang tajam memenuhi udara Nook Coffee pagi itu. Tiba-tiba, Wina menyembul dari balik pintu gudang, menyenggol bahu Caca dengan siku.
"Pawang hujan, ada paket tuh di depan," bisik Wina sambil memutar matanya ke arah pintu masuk. "Tukang paketnya minta tanda tangan."
Caca mengernyit, dahinya berkerut. "Hah? Paket? Perasaan gue gak ada belanja apa-apa."
"Ya mana gue tau, buruan samperin! Udah dua kali dia nanya." Wina langsung mengambil alih posisi Caca di depan mesin espresso tanpa diminta.
Caca melangkah keluar bar, menemui kurir yang sudah menunggunya dengan bungkusan plastik hitam di tangan. Setelah menorehkan tanda tangan di layar ponsel sang kurir, ia kembali dengan kotak itu di tangannya.
"Dapet paket dari cowok ya? Ciee..." goda Wina, matanya melirik kotak di tangan Caca dengan antusias.
"Bukan, dari cewek," sahut Caca singkat.
Wina terbelalak, hampir saja menjatuhkan milk jug yang sedang ia pegang. "Sejak kapan lu doyan cewek, Ca?"
"Mulut lu, ya!" Caca refleks membekap mulut Wina dengan satu tangan. Wina terperangah, matanya melotot lucu di balik telapak tangan Caca, mencoba memprotes namun hanya menghasilkan suara gumaman teredam yang konyol.
Saat jam istirahat tiba, mereka berdua menepi ke ruang loker yang sempit. Wina sudah duduk manis, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu, menatap kotak di tangan Caca seolah itu adalah bom waktu.
Caca tahu Wina sedang menahan napas. Ia sengaja bergerak sangat lambat, memutar kotak itu di tangannya berkali-kali.