Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #65

Empat Porsi Bakso

Malam harinya, Caca duduk sendiri di sebuah warung bakso pinggir jalan. Meskipun matanya masih terlihat agak sayu akibat tangis yang belum sepenuhnya kering sore tadi.


Ia tetap mengunyah bakso di mangkuknya perlahan. Tatapannya kosong, persis seperti robot yang terpaksa harus mengisi bahan bakar sekadar agar tetap bisa hidup.


Di tengah kunyahannya yang lambat, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dari samping.


Caca menoleh malas ke arah tangan itu, dan mendapati sosok Fadly berdiri di sana dengan cengiran lebarnya.


"Hayoloh, ngelamun mulu," ucap Fadly sambil tersenyum ramah.


Caca mendengus pelan. "Dih, lu ngagetin gua, Dly. Padahal gua lagi khusyuk-khusyuknya fokus ngelamun."


"Sorry, sorry, gua nggak tahu kalau lu lagi sesi perenungan," balas Fadly tanpa rasa bersalah.


Fadly langsung duduk di bangku sebelah Caca, lalu memanggil abang penjual bakso. "Kayak biasa, Bang! Tiga ya, yang satu jangan pakai pedas," pesannya akrab.


Abang bakso mengangguk sambil tersenyum. "Okem, siap!"


Caca menatap Fadly dengan kening berkerut. "Dih, udah akrab aja lu sama abangnya, Dly."


"Ya, gara-gara lu yang mulai, gua jadi ketularan langganan di sini," jawab Fadly enteng.


"Enak ya baksonya," gumam Caca lirih.


Fadly mengangguk, lalu matanya melirik sekilas ke arah meja.


Lihat selengkapnya