Bram menaikkan sebelah alisnya, merasa geli melihat tingkah Caca yang mendadak salah tingkah. "Kenapa lu, Ca? Kesurupan apa lagi?"
Caca menarik napas pendek sebelum akhirnya bersuara, "Eh... Andra lagi kerja kan, Bram...?"
"Iya, kenapa emang?" tanya Bram semakin penasaran.
Caca menyodorkan kantong plastik berisi kopi itu dengan hati-hati. "Tolong kasih ini ya buat dia..."
Bram mengerjap, menatap kantong kopi lalu beralih menatap wajah Caca. "Oh, oke. Nanti gua taruh di mejanya." Bram terdiam sejenak, lalu menyipitkan mata. "Dari seorang barista yang baru dapet penghargaan."
Caca langsung menggeleng cepat. "Jangan! Jangan bilang dari gua. Bilang aja kalau itu dari lu, Bram."
Bram mendengus heran. "Lah, aneh banget. Kenapa emang nggak boleh disebut dari lu?"
Caca menunduk sejenak, memainkan ujung apronnya sebelum menjawab lirih, "Takutnya... kalau tahu itu dari gua, dia malah nggak mau nerima."
Melihat keraguan dan raut sendu yang tiba-tiba melintas di wajah Caca, Bram tidak lagi bertanya macam-macam. Ia mengangguk pelan, lalu menerima kantong kopi itu dari tangan Caca.
"Yaudah, beres. Serahin ke gua," ujar Bram meyakinkan.
Setelah itu, Bram bergegas pamit dan melangkah pergi meninggalkan Nook Coffee, menyeberang jalan menuju kantor tempatnya bekerja.
Setelah masuk ke area kantor, Bram melangkah masuk menuju ruangan Andra. Begitu membuka pintu, ia mendapati Andra masih terfokus di depan layar laptop, sibuk berkutat dengan pekerjaannya dengan headset yang masih menempel erat di kedua telinganya.
Tanpa banyak bicara, Bram berjalan mendekat dan menyodorkan kantong plastik berisi kopi tepat di hadapan layar monitor Andra.
Andra melirik sekilas ke arah benda yang tiba-tiba menghalangi pandangannya, lalu perlahan menggeser sebelah headset dari telinganya.
"Buat gua, Bram?" tanya Andra dengan nada datar namun penasaran.
Bram mengangguk santai. "Titipan," jawabnya singkat.
Andra mengangkat alisnya. "Dari siapa?"