Pagi itu, Caca dan Wina melangkah memasuki sebuah rumah sederhana yang tampak nyaman dan asri. Begitu pintu terbuka, sosok yang menyambut mereka ternyata adalah Mbak Ranti.
Berbeda drastis dari imejnya di kedai yang selalu kaku, tegas, dan dingin, hari ini Mbak Ranti terlihat jauh lebih santai, meski gerak-geriknya masih menyisakan sedikit kecanggungan.
"Kamu juga ikut, Win?" tanya Mbak Ranti dengan kening berkerut tipis melihat kehadiran Wina di belakang Caca.
Wina nyengir lebar. "Iya, Mbak. Daripada nganggur di rumah, Caca ngajakin ke sini tadi."
Mbak Ranti mengangguk-angguk. "Yaudah, yuk, masuk..."
Mereka berdua pun melangkah masuk ke ruang tamu yang penataannya rapi dan hangat.
"Maafin Mbak ya, Ca, udah ganggu waktu libur kamu," ucap Mbak Ranti sambil menata beberapa barang di atas meja.
"Gak apa-apa kok, Mbak. Soalnya emang lagi nggak ada kegiatan juga di rumah," jawab Caca.
Mbak Ranti menghela napas pelan, lalu menjelaskan maksud undangannya. "Iya, Mbak mau minta tolong banget. Soalnya hari ini Mbak mau dateng ke wisuda anak Mbak... Jadi, Mbak mau minta tolong kalian buat jagain ayah Mbak sebentar di rumah."
Wina yang mendengarnya langsun bertanya tanpa filter, "Emang ayahnya sakit ya, Mbak?"
Caca langsung menginjak kaki Wina di bawah meja, merasa pertanyaan itu terlalu lancang.
Namun, Mbak Ranti tidak tampak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis.
"Iya, Win... Ayah Mbak kena demensia," jawab Mbak Ranti.