Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #70

Jejak yang Hilang

Caca mengerutkan kening, diliputi rasa heran bercampur cemas melihat gestur sahabatnya yang gemetar. "Kenapa emang, Win...?"


Wina menelan ludahnya susah payah, napasnya memburu. "Ayah...!" ucapnya dengan nada yang begitu panik dan gugup.


Wina mencengkeram lengan Caca dengan erat, napasnya memburu tak beraturan. "Ayah Mbak Ranti hilang, Ca!"


Caca langsung melotot, mencoba tertawa hambar untuk menepis rasa ngeri di dadanya. "Win, jangan bercanda deh lu. Nggak lucu."


"Enggak, beneran, Ca! Gue serius!" ralat Wina dengan suara nyaris menangis.


"Masih di dalam kali, Win," Caca masih berusaha meyakinkan, menepis skenario terburuk di kepalanya. "Coba cari lagi."


"Udah gua cek ke semua ruangan, Ca! Nggak ada!"


"Yaudah, kita cek bareng-bareng lagi," ujar Caca, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang meski jantungnya mulai berdegup kencang.


Keduanya bergegas memeriksa setiap sudut rumah.


Caca berlari kecil menyusuri setiap ruangan, mengabaikan rasa sungkan karena harus menggeledah rumah orang lain tanpa izin. Kamar tidur, dapur, kamar mandi, hingga ruang tamu… semuanya kosong.


"Kok bisa nggak ada sih, Win..." gumam Caca panik, napasnya mulai tersengal.


Wina mengikuti di belakangnya dengan tangan gemetar. "Gue tadinya nggak ngira beliau bakal keluar, Ca. Tadi sempat ngomong sih, 'Neng belum pulang', terus langsung bergegas gitu aja. Gua kira cuma mau ke kamar depan. Tapi pas gue cek, kok sepi banget, gue cari ke mana-mana, udah nggak ada..." Wina menunjuk ke arah pintu depan yang terbuka sedikit. "Hanya pintu depan itu yang udah kebuka."


Caca terdiam, rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak. Seharusnya ia tadi tidak menyuruh Wina menjaga sendirian, seharusnya ia tadi tidak pergi ke minimarket.


"Yaudah, gua telpon Mbak Ranti dulu," ucap Caca sambil merogoh saku jaketnya.


Ia mengeluarkan ponsel dan langsung mendial nomor Mbak Ranti.


Sambungan terhubung, berdering beberapa kali, namun tidak kunjung diangkat di seberang sana. Panik Caca kian menjadi.


Di tengah kepanikan itu, suara mesin mobil terdengar mendekat. Sebuah kendaraan berhenti pelan tepat di depan halaman rumah. Pintu mobil terbuka, dan sosok Mbak Ranti melangkah turun dengan masih mengenakan pakaian rapi bekas acara wisuda.


Wina yang melihatnya langsung, tanpa aba-aba melompat keluar rumah, menghambur menghampiri Mbak Ranti. Sambil terbata-bata, Wina langsung meminta maaf dan mengaku bahwa ayah Mbak Ranti keluar rumah tanpa pengawasan.


Mbak Ranti sempat tertegun, matanya melebar kaget dan napasnya tertahan.


Namun, alih-alih marah, wanita itu menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan kepanikan yang nyaris meruntuhkan pertahanannya. Ia mendengarkan penjelasan Wina yang terputus-putus dengan saksama.


Setelah beberapa saat meresapi situasi dan berpikir cepat, Mbak Ranti menghembuskan napas pelan, lalu menatap Wina dan Caca yang tampak dilanda rasa bersalah luar biasa.


"Yaudah, kalian nggak usah panik, Win, Ca..." ucap Mbak Ranti dengan nada yang diusahakan setenang mungkin. "Sepertinya... Mbak tahu deh Ayah pergi ke mana."

Lihat selengkapnya