Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #72

Hidup di ingatan

Uap panas mengepul dari dua mangkuk mi instan yang baru saja dihidangkan di atas meja kayu. Aroma gurih yang khas langsung menyeruak, memecah dinginnya udara malam pedesaan dan seketika membuat Bram refleks menelan ludah.


"Emang ya, aroma mi instan, nggak pernah bisa ditolak, Dra," gumam Bram, matanya tak lepas dari mangkuk yang mengepulkan asap.


Andra tersenyum tipis, mengambil sumpitnya. "Gua bilang apa, ini bukan sekadar ajakan random."


Pemilik warung paruh baya yang berdiri di dekat meja ikut tersenyum hangat melihat antusiasme tamunya. "Tujuannya mau pada ke mana, pak? Masih jauh perjalanannya, sepertinya," tanyanya ramah.


Andra merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya ke hadapan bapak itu. "Kami mau ke daerah sini, Pak."


Bapak itu menyipitkan mata, mengerutkan dahi sambil mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Andra guna membaca peta digital yang tertera.


"Wah... kalau ke sini mah cukup jauh, Nak," ujar bapak itu sambil menggelengkan kepala. "Apalagi ini sudah larut. Sepertinya mendingan kalian cari penginapan dulu di perbatasan kota. Kalau dipaksakan, jalannya sudah sepi."


Andra mengangguk pelan, menyetujui saran sang pemilik warung.


"Iya, Pak. Memang rencananya kami mau cari penginapan dulu di ujung jalan kota ini. Perjalanannya lumayan melelahkan ternyata." Ia mulai menyeruput kuah mi yang hangat.


Bapak itu kembali manggut-manggut, melirik mobil mereka. "Urusan pekerjaan, Pak?" tanyanya hati-hati.

Lihat selengkapnya