Suasana siang hari di pedesaan itu terasa tenang, diselingi angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan dedaunan pohon mangga di pinggir jalan. Mobil perlahan menepi dan berhenti tepat di depan gerbang sebuah Sekolah Dasar negeri yang tampak sederhana.
Cat dinding bangunannya sudah mulai mengelupas di beberapa sisi, namun halamannya terlihat bersih dan asri.
Bram menoleh ke arah Andra, menatap ragu ke arah bangunan sekolah sebelum kembali menatap Andra.
"Kamu yakin, Dra...?" tanya Bram memastikan, nada suaranya menyiratkan keheranan atas tujuan perjalanan panjang mereka kali ini.
Andra mengangguk, melepas sabuk pengamannya. "Ini penting bagi gua, Bram."
Melihat tekad yang begitu bulat di mata sahabatnya. Ia hanya tersenyum tipis.
Tanpa buang waktu, Andra bergegas membuka pintu mobil dan melangkah ke luar. Kakinya menapak di atas aspal halaman sekolah, meninggalkan Bram yang memilih tetap duduk menunggu di dalam mobil.
Andra berdiri terpaku di depan sebuah kelas, langkah kakinya terhenti di koridor sekolah yang lengang.
Dari luar jendela kaca yang sedikit berdebu, pandangannya menyapu isi ruangan hingga tatapannya terkunci pada sosok seorang guru berkerudung yang tengah membereskan meja mengajarnya.
Wanita paruh baya itu tanpa sengaja mendongak dan mendapati kehadiran Andra di luar. Sesaat, mata mereka saling mengunci. Ada kilat keterkejutan yang langsung disusul oleh raut kesedihan mendalam di manik mata sang guru.
Namun, alih-alih langsung menghampiri, Andra memilih melangkah mundur dan duduk diam di sebuah bangku panjang yang berada di luar kelas.
Ia menunduk, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang.
Tak lama kemudian, bel jam kepulangan berbunyi nyaring. Suasana kelas yang tadinya tenang mendadak pecah oleh gelak tawa dan sorak-sorai anak-anak yang berlarian keluar pintu.
Hingga satu per satu anak-anak berlalu, meninggalkan halaman sekolah yang kembali sepi, Andra masih bergeming di tempat duduknya.
Langkah kaki ringan mendekat. Seorang wanita paruh baya berkerudung rapi dengan seragam pengajarnya kini berdiri tepat di sebelah bangku tempat Andra duduk.
Begitu Andra menoleh, sosok yang garis wajahnya masih terukir jelas dalam ingatannya kini hadir nyata di sampingnya. Wanita itu menatapnya dengan air mata yang nyaris tumpah, bibirnya bergetar hebat sebelum akhirnya suara tertahan itu lolos dari celah bibirnya.
"Rainandra..."
Andra tersentak. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, menatap lurus ke dalam mata wanita yang sudah bertahun-tahun tak ia jumpai itu.