Pagi itu, suasana Nook Coffee berjalan seperti biasa, namun tidak bagi Caca. Gadis itu tampak berjibaku dengan pekerjaannya di balik mesin kopi dengan ekspresi wajah tertekuk. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut sebal—benar-benar definisi muka cemberut yang sempurna.
Dari arah bar, Mbak Ranti berdehem pelan untuk menegur. "Muka jangan dilipat begitu, Ca, nanti pelanggannya kabur."
Caca menoleh kaget, lalu cepat-cepat meregangkan otot wajahnya dan memaksakan seulas senyum kaku yang terlihat dipaksakan. Mbak Ranti hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bawahannya itu.
Belum sempat Caca kembali fokus pada pesanannya, Wina tiba-tiba muncul dari ruang belakang dengan langkah tergesa. Wajahnya memasang mimik serius khas yang biasa ia tunjukkan saat membawa gosip atau berita penting.
"Ca... ada cewek nanyain lu di depan," bisik Wina setengah berbisik.
Caca mengerjap, menghentikan kegiatannya. "Eh? Siapa, Win?"
"Gua nggak tahu. Perasaan baru pertama kali lihat deh, tapi orangnya cantik banget," jawab Wina penuh rasa penasaran.
Tanpa membuang waktu, Caca melepas kain lap di tangannya dan bergegas melangkah ke area depan kafe, otaknya langsung berputar menebak-nebak siapa sosok yang mencarinya sepagi ini.
Namun, begitu langkahnya tiba di dekat meja pelanggan dan matanya menangkap sosok wanita yang duduk anggun di sana, seluruh kepingan ingatan masa lalu mendadak berputar kembali di kepalanya.
"Kak... Marsha?" ucap Caca tercekat, separuh tak percaya.
Wanita di hadapannya mendongak, lalu mengulas senyuman. "Masih ingat rupanya," sapa Marsha lembut.
Caca langsung salah tingkah, refleks membungkuk sedikit. "Makasih ya, Kak, soal nail art waktu itu..."
Marsha terkekeh pelan, melambaikan tangan menepis ucapan terima kasih Caca. "Ah, santai aja. Maaf ya ganggu jam kerja kamu, Ca. Soalnya aku nggak punya nomor handphone kamu, jadi terpaksa langsung datang ke sini."
"Eh, nggak apa-apa kok, Kak!" jawab Caca cepat. "Emang... ada perlu apa ya, Kak?"
Marsha terdiam sejenak, menatap Caca lekat-lekat dengan sorot mata penuh harap. "Aku ada keinginan… moga kamu mau bantu wujudin."
Mendengar permintaan yang tiba-tiba itu, Caca mengerjap gugup. "Em... insyaAllah, semoga aku bisa wujudin."
"Minggu ini kamu ada acara nggak?" tanya Marsha to the point.
Caca berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan. "Nggak ada, Kak. Kosong."
Marsha merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan selembar kartu elegan berwarna senada, yang sekilas terlihat seperti sebuah tiket undangan eksklusif. Ia meletakkannya di atas meja, mendorongnya pelan ke hadapan Caca.
"Aku punya undangan nonton premier film. Kalau kamu mau dan tidak keberatan... temenin aku ya, Ca."
Caca terpaku menatap kartu undangan di depannya. Pikirannya melayang sesaat, mempertimbangkan ajakan yang sama sekali tidak ia duga itu. Namun, melihat ketulusan di mata Marsha, keraguan itu perlahan menguap.
Caca mengangguk sambil tersenyum.