Nook Coffee siang itu dipenuhi kesibukan. Suara mesin espresso berderu dari balik bar, berpadu dengan obrolan para pelanggan.
Caca sedang membersihkan meja ketika ponselnya di dekat mesin kasir bergetar. Sekali, lalu dua kali. Ia melirik sekilas, mendapati notifikasi email dari Lentera Aksara.
Langkah Caca terhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat saat ia mengusap telapak tangannya ke celemek sebelum meraih ponsel tersebut. Satu ketukan membuka pesan itu. Matanya memindai baris demi baris, hingga wajahnya membeku beberapa detik. Ia membacanya sekali lagi, memastikan tidak salah lihat:
Naskah Anda dinyatakan diterima untuk diterbitkan oleh Lentera Aksara.
Caca menutup mulutnya, matanya membesar tak percaya.
"Ya ampun..." bisiknya pelan. Senyumnya melebar hingga ia mengeluarkan suara kecil yang membuat beberapa pelanggan menoleh.
Caca buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya yang berbinar.
Wina yang baru saja membawa dua gelas dari meja pelanggan langsung menghampiri. "Ca? Lu kenapa?"
Tanpa menjawab, Caca mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dengan wajah penuh kemenangan. Wina mengernyit, lalu membaca layar yang disodorkan. Matanya langsung membesar.
"HAH?!"
Caca mengangguk cepat. "Diterima, Win."
Wina bersorak girang. "AKHIRNYA!"
Suara Wina yang terlalu keras membuat beberapa pelanggan kembali menoleh.
Mbak Ranti dari balik bar ikut melirik dan bertanya, "Apaan sih kalian?"
"Naskahnya Caca diterima, Mbak!" seru Wina antusias.
Mbak Ranti tersenyum hangat. "Wah, selamat, Ca!" Caca tersenyum malu-malu di balik rona bahagianya.
Wina langsung menepuk bahu Caca. "Berarti traktiran."
Caca menoleh sinis. "Apaan?"
"Ya traktiran. Gua ikut doain lu tiap hari, Ca," balas Wina tanpa rasa bersalah.
Caca memasukkan ponselnya ke saku celemek, lalu memasang wajah sok tenang. "Boleh."
Wina tersenyum puas. "Tuh kan."
"Tapi..." Caca mengangkat satu telunjuknya. "Tunggu gajian."
Wina terdiam sejenak, menatap Caca tajam.