Pagi itu, suasana Nook Coffee kembali sibuk dengan rutinitas harian. Caca berdiri di balik meja bar, cekatan meracik pesanan para pelanggan, hingga dering pendek ponsel di samping mesin kopi menghentikan gerakannya.
Sebuah notifikasi surel baru mendarat di layar.
Catatan Revisi Bab 17.
Caca mengernyit, buru-buru membuka pesan tersebut dan membaca komentar pertama dari editornya.
Bab 17, bagian ini terlalu panjang. Bisa dipangkas.
Tanpa pikir panjang, jemari Caca langsung mengetik balasan dengan nada protes.
Tapi bagian ini penting, Pak Andra.
Tak butuh waktu lama, tiga titik tanda sedang mengetik muncul di layar. Balasan pun masuk.
Kenapa?
Caca mendengus, mengetik cepat penuh keyakinan.
Karena saya suka adegannya.
Tiga titik kembali muncul. Kali ini balasannya telak.
Itu bukan alasan editorial.
Caca terdiam, menatap layar ponselnya beberapa detik dengan mata menyipit. Napasnya menderu pelan sebelum akhirnya mendengus kesal.
"Astaga..." gumamnya gemas. Ia menyeka tangan, memasukkan ponsel itu ke saku celemek, lalu kembali sibuk dengan cangkir-cangkir kopi.
Belum genap lima menit ia bekerja, ponsel di sakunya kembali bergetar. Caca membukanya dengan wajah curiga dan rasa malas yang membuncah.
Bab 18 juga masih terlalu panjang. Sekitar 15% bagian bisa dipangkas. Beberapa kalimat terasa bertele-tele.
Caca memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosi yang naik ke ubun-ubun, lalu mendesis pelan,
"Editor batu..."
Dari arah samping, Wina yang sedang menyusun gelas keramik langsung menoleh. "Lu ngomong sama siapa, Ca?"
Caca memasang wajah sedatar mungkin. "Manusia batu."
Wina hanya mengangguk santai. "Owh." Lalu kembali sibuk menata gelas seolah tidak terjadi apa-apa.