Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #78

Ada yang kurang

Hari-hari berikutnya berlalu dalam pusaran waktu yang seakan berkejaran. Meja kerja Caca disibukkan dengan rentetan revisi tanpa henti. Bab-bab yang dulu mati-matian ia pertahankan akhirnya rela dipangkas demi kebaikan cerita.


Beberapa dialog dirombak ulang, halaman-halaman lama hilang, digantikan oleh barisan kalimat baru yang jauh lebih bernyawa.


Sesekali Caca masih mendumel kesal, melayangkan protes kecil lewat pesan singkat yang dibalas dengan kalimat-kalimat dingin khas sang editor.


Namun, di balik setiap hela napas panjang dan keluh kesahnya, naskah Rinai Senja perlahan bertransformasi menjadi sebuah karya yang jauh lebih matang, padat, dan mengalir indah.


Tanpa Caca sadari, minggu-minggu melelahkan itu telah membawa mereka melangkah jauh melampaui garis awal.


Pagi itu, suasana Nook Coffee mendadak terasa lebih hangat ketika Bram melangkah masuk dengan senyum lebar yang mencurigakan.


Begitu melihat Caca yang sedang berdiri di balik meja bar, pria itu langsung melambaikan tangan menyuruhnya mendekat.


"Ca, ke sini sebentar," panggil Bram penuh semangat.


Caca mengerjap, berjalan menghampiri meja tempat Bram duduk. "Apaan, Bram? Datang-datang bikin penasaran."


Bram menunjuk kursi di depannya. "Duduk dulu. Makanya, jangan berdiri di situ."


Dengan muka heran, Caca menurut dan duduk.


“Gimana Ca, revisi naskahnya?”


“Yang ada tiap hari gua dikasih siksaan revisi," gerutu Caca sengit.


“Tapi tumben udah beberapa Minggu ini, Editor batu itu gak ngirim daftar revisi” Caca mengernyitkan dahi.


Bram tersenyum kecil. “Mungkin karena revisinya udah selesai.”


Caca mengernyitkan dahi. “Selesai?”


Bram malah terkekeh renyah. "Udah, turutin aja apa kata editornya."


Caca menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut heran. "Lu gampang banget ngomong."

Lihat selengkapnya