Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #79

Sepuluh Eksemplar

Beberapa minggu kemudian, suasana rumah Bram kembali ramai oleh riuh tawa dan kehangatan keluarga kecil itu. Kehadiran Caca yang sudah terlalu sering datang membuat posisinya di sana melebur alami, seolah ia memang sudah menjadi bagian anggota rumah tersebut.


Bahkan Tasya dan Bram sudah hafal betul kebiasaan kecil Caca setiap kali bertamu.


"Ca, itu jangan dimakan dulu," tegur Tasya tajam dari arah dapur.


Caca yang tangannya nyaris menyentuh piring gorengan panas langsung menarik diri. "Kenapa? Aku kelaparan, Sya."


"Itu buat Dafa," jawab Tasya santai.


Caca mengerucutkan hidungnya sebal. "Dafa masih kecil, nggak bakal sadar kalau kurang satu."


Tasya terkekeh ringan di balik meja minibar. "Makanya, tadi aku sengaja bikin dua porsi lebih banyak khusus buat kamu."


Belum sempat Caca membalas, suara teriakan melengking terdengar nyaring dari ruang tengah.


"Kak Caca! Jangan ambil gorengan Dafa!"

Caca menoleh, lalu tertawa lebar. "Nah, tuh. Anaknya sendiri yang protes."


Bram yang duduk santai di sofa sambil memegang ponselnya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lu lama-lama udah kayak anggota keluarga sendiri di sini, Ca," komentarnya tanpa mengalihkan pandangan.


Caca tertegun sejenak. Ia menoleh ke arah Bram, lalu menatap Tasya yang baru saja berjalan membawa sepiring makanan hangat ke meja. "Emang boleh... sebegitu bebasnya?"


Tasya meletakkan piring itu, lalu tersenyum tulus. "Boleh lah. Kalau mau main ke sini, datang aja kapan pun. Nggak usah izin dulu."


Caca mengerjap, memastikan ia tidak salah dengar. "Serius, nih?"


"Serius, Caca," timpal Tasya.


"Berarti kalau nanti malam gue datang jam dua pagi pas insomnia?" tantang Caca usil.


Tasya langsung melotot galak. "Kalau jam dua pagi, baru wajib izin!"


Bram spontan tertawa terbahak-bahak mendengar reaksi istrinya. "Hahaha, ya jangan dites juga kearifan lokalnya, Ca!"


Gelak tawa kembali mengisi ruang tamu. Untuk beberapa saat, Caca sukses melupakan bagaimana kerasnya bulan-bulan sebelumnya yang dihantam badai revisi, target naskah, dan seorang editor berhati dingin yang tak kenal ampun.


Namun, kedamaian itu mendadak terhenti ketika suara decitan ban mobil terdengar dari halaman depan rumah.


Bram, yang posisi duduknya paling dekat dengan jendela kaca, spontan menoleh keluar. "Eh, kayaknya ada tamu."


Caca ikut melirik ke arah luar. Seketika itu juga, darahnya berdesir hebat. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan oleh kepanikan saat matanya menangkap sebuah mobil yang terlalu familier terparkir di halaman.


"Jangan-jangan..." gumam Caca, jantungnya mendadak melompat ke tenggorokan.


Tanpa menunggu penjelasan, Caca langsung bangkit berdiri dengan gerakan serba salah. "Gue ke kamar Dafa ya!"


"Hah? Ngapain ke kamar Dafa?" kejar Bram bingung.


"Nggak apa-apa!" seru Caca setengah panik, lalu berlari kecil meninggalkan ruang tengah dan membanting pintu kamar anak itu rapat-rapat.


Bram menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan kening berkerut. Ia mengalihkan pandangannya pada Tasya. "Dia kenapa, deh?"

Lihat selengkapnya