"Gak kerasa," ucap Caca pelan, matanya menyapu sekeliling tempat itu. "Udah 578 hari... gak ke sini."
Andra melirik sekilas, lalu mendengus geli. "Nyampe dihitungin, Ca..."
"Kamu nyebelin, Dra," balas Caca sambil melayangkan tepukan pelan ke lengan Andra.
Andra menggeser duduknya, merapat ke sebelah Caca. Suaranya melembut, "Tapi perjuangan itu nggak pernah sia-sia, Ca." Ia menoleh, menatap lurus ke dalam mata gadis di sampingnya. "Aku senang naskahmu terbit, dan memang hasilnya sebagus itu."
Caca mengerjap.
"Beneran...?"
Andra mengangguk. "Beneran. Oh iya, satu lagi... jangan pernah nekat hujan-hujanan lagi kalau pulang dari sini," sambungnya dengan nada memperingatkan.
Caca tertegun, keningnya mengernyit bingung. "Dari mana kamu tahu...?"
Andra terdiam sejenak sebelum menjawab, "Marsha yang bilang."
Mendengar nama itu, Caca refleks membelalakkan mata. "Oh, iya! Aku baru ingat… Marsha. Kemarin-kemarin kita sempat beberapa kali jalan bareng. Tapi sekarang kok dia nggak ada kabar ya? Dia baik-baik aja, kan?"
Andra tersenyum tipis. "Dia sudah resign lumayan lama. dia juga ikut andil merekomendasikan naskahmu ke meja editorial, sebelum dia mengundurkan diri."
Caca terdiam seketika. Tatapannya menerawang jauh, lepas menembus rimbunnya daun pohon jeruk di hadapan mereka.
"Dia sudah menemukan rumah tempatnya pulang," ucap Andra pelan. Pandangannya ikut jatuh pada pohon jeruk yang sama.
"Dan mungkin sekarang... giliranku mencari rumah buat diri sendiri."
Andra menjeda kalimatnya sesaat, membiarkan angin sore membawa debar yang tiba-tiba melompat di antara mereka.
Caca menoleh, menatap sang editor dengan napas tertahan.
"Kalau kamu mau..." Andra menarik napas perlahan, merangkai sisa keberaniannya.