Petrichor

Kal Q Fawzie
Chapter #81

Tempat untuk Pulang

Pagi itu, suasana di Nook Reader—sudut baca khusus yang berada di dalam area kafe—tampak lebih hidup dari biasanya.


Caca dan Wina berdiri berdampingan di dekat rak pajangan utama, sibuk menata dan memamerkan buku baru yang baru saja Caca bawa.


Lima eksemplar Petrichor karya Caca tersusun rapi di tempat paling strategis, sengaja diletakkan di rak terdepan agar langsung menarik perhatian pengunjung.


Caca terus memandangi deretan buku itu dengan senyum yang tak juga surut dari bibirnya. Ada rasa bangga yang luar biasa hangat bergemuruh di dadanya.


Ia menoleh ke arah Wina, mengangkat dagunya sedikit dengan gaya songong yang sengaja dilebih-lebihkan. "Biar karya gue gampang di temukan, Keren kan, Win?" tanyanya penuh percaya diri.


Wina mengangguk mantap sambil tersenyum tulus. "Iya, Ca. Keren banget, sumpah!"


Belum sempat Caca menikmati kebanggaannya lebih lama, suara deheman khas dari arah belakang membuat pundak mereka berdua terlonjak kaget.


Ehem.


Caca dan Wina langsung berputar kompak. Mbak Ranti berdiri di sana, melipat kedua tangan di dada dengan gaya atasan yang sedang menginspeksi anak buah.


"Itu buku kamu ya, Ca?" tanya Mbak Ranti tenang.


Caca menunduk malu-malu sambil mengangguk dengan sisa-sisa raut bangga yang masih jelas tercetak di wajahnya. "Iya, Mbak..."


Mbak Ranti memperhatikan sampul buku itu lekat-lekat dengan mata memicing, seolah sedang menilai kualitas cetakannya.


Beberapa detik kemudian, senyum tipis terbit di bibirnya. "Keren bukunya, Ca. Tapi... kayaknya Mbak punya ide bagus."


Caca yang tadinya sempat deg-degan langsung mengerjap. "Ide apa, Mbak?"


"Kayaknya Mbak perlu ajuin ke pusat deh," ujar Mbak Ranti santai. "Biar ruangan Nook Reader di setiap cabang nggak cuma diisi buku-bestseller umum, tapi juga khusus memajang karya dari karyawan kita sendiri."


Mata Wina langsung berbinar mendengar usulan itu. "Ide bagus tuh, Mbak! Setuju banget!"


"Soalnya, selain jadi wadah apresiasi, kalau buku karya karyawan dipajang, biasanya pembeli juga bisa dapet potongan harga khusus," tambah Mbak Ranti sambil melirik Caca penuh arti.


Caca tersenyum lebar, merasa di awang-awang. "Wah, kalau itu sih bisa diatur, Mbak!"


"Lumayan kan, Ca? Buku kamu nggak cuma mejeng di sini, tapi bisa dibaca di setiap Nook Coffee di seluruh cabang," lanjut Mbak Ranti.


Semangat Caca mendadak melonjak berkali-kali lipat. "Kalau gitu, aku harus bikin buku kedua nih, Mbak!"


Mbak Ranti dan Wina sontak menoleh serempak ke arah Caca, terkejut dengan ambisi dadakan itu.


Tanpa beban, Caca menyengir lebar. "Biar makin cuan, Mbak!"


Tawa renyah langsung pecah di sudut ruangan itu, mencairkan suasana kaku dalam sekejap.


Mbak Ranti menggelengkan kepala geli, lalu berpamitan meninggalkan kedua karyawannya kembali bekerja.


Lihat selengkapnya