Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #1

Petrichor: Melankolia Rinai dan Badai

Rinai menyukai aroma tanah yang basah, sementara Badai adalah alasan mengapa tanah itu berbau demikian.


Di sebuah kota yang selalu berpura-pura sibuk, Rinai berdiri di bawah naungan halte tua yang catnya mulai mengelupas.


Matanya menatap lekat pada barisan gedung pencakar langit yang mulai memudar ditelan abu-abu.


Ia selalu merasa dirinya adalah setitik air yang jatuh pelan, ritmis, dan tenang—seperti namanya.


Namun, ketenangannya selalu terusik setiap kali lelaki itu datang.

Badai.


Lelaki itu tidak pernah datang dengan ketukan pintu yang sopan.


Ia datang dengan deru angin yang mengacak-acak tatanan rambut, dengan gemuruh yang menggetarkan kaca jendela, dan dengan intensitas yang membuat napas Rinai seringkali tertahan di tenggorokan.


"Kau terlambat lagi," bisik Rinai saat Badai muncul di hadapannya, tubuhnya basah kuyup, rambutnya berantakan, tetapi matanya bersinar seolah ia baru saja memenangkan duel melawan langit.


Badai tertawa, suara yang terdengar seperti guntur di kejauhan namun terasa hangat di telinga Rinai.


"Aku tidak terlambat, Rinai. Aku hanya sedang mengumpulkan keberanian untuk luruh bersamamu."


***


Mereka adalah dua kutub yang dipaksakan semesta untuk bertemu dalam satu musim.


Rinai adalah sisa-sisa kesedihan yang puitis, sedangkan Badai adalah puncak dari segala kemarahan yang indah.


Dalam lirik hidup mereka, ada bait-bait yang tak pernah selesai ditulis.


"Aku ingin menjadi hujan yang menyentuh keningmu dengan lembut," kata Rinai suatu malam di balkon apartemennya. "


Tapi kau selalu datang sebagai badai yang ingin meruntuhkan segalanya."

Lihat selengkapnya