Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #2

Merayakan Kematian


Lonceng di pintu kafe itu berdentang pelan, menyanyikan sepotong nada sumbang yang segera diredam oleh rintik gerimis di luar.


Seperti tahun-tahun yang lalu, sudut ini tetap sama: remang yang setia, aroma bubuk kopi yang berbaur tanah basah, dan sepasang kursi kayu yang salah satunya dibiarkan melamun tanpa penghuni.


Seorang perempuan duduk di sana. Namanya tak lagi penting bagi dunia yang bergerak tergesa-gesa.


Baginya, hari ini bukan tentang angka yang bertambah di atas kalender, melainkan tentang sepotong pasir waktu yang jatuh menjauh dari genggaman.


Hari ini adalah hari ulang tahunnya—sebuah hari yang oleh orang-orang di luar sana disambut dengan gelak tawa dan riuh sangkala.


Namun di kepala perempuan itu, ulang tahun memiliki arti yang jauh lebih sunyi.


Ia sedang merayakan kematian; merayakan sebaris jatah usia yang baru saja dipangkas oleh sang waktu.


"Satu kerat kue tart cokelat dan sebatang lilin angka, seperti biasa?" tanya seorang pelayan tua dengan suara sewarna daun kering.


Perempuan itu mengangguk kecil, menyunggingkan senyum yang terbuat dari sisa-sisa ketabahan.


Tak butuh waktu lama hingga hidangan sunyi itu tersaji di hadapannya.


Di atas meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas, sekerat kue tart itu tampak seperti sebuah altar kecil.


Ia menyalakan korek api. Bunyi klik yang singkat segera disusul oleh nyala api kuning keemasan yang menari di pucuk lilin.


Api itu bergoyang-goyang, melemparkan bayangan tubuhnya yang ringkih ke dinding kafe yang kusam.


Lihat selengkapnya