Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #3

Kodokushi; Hito wa Hitori de Umare, Hitori de Shinu


Di Tokyo, kesunyian tidak selalu berarti damai.


Kadang, ia adalah suara detak jam dinding yang beradu dengan deru lemari es tua di sebuah apartemen seluas enam tikar tatami.


Bagi Kenjiro, kesunyian adalah selimut yang ia jahit sendiri selama lima belas tahun terakhir.


Kenjiro adalah seorang hikikomori yang menua, seorang pria yang memudar sebelum benar-benar hilang.


Di usianya yang ke-65, dunianya hanya sebatas jendela kaca yang buram oleh uap lemak dan pemandangan kabel listrik yang silang-menyilang seperti urat saraf kota yang stres.


Ia adalah kandidat sempurna untuk sebuah fenomena yang ditakuti namun diterima dengan pasrah: Kodokushi¹.


***


Pagi itu, aroma mi instan sisa semalam bercampur dengan bau kertas koran lama.


Kenjiro duduk di lantai, menatap sebuah bingkai foto yang kacanya sudah retak.


Di dalamnya, ada seorang wanita muda dengan kimono musim panas, tersenyum seolah-olah waktu tidak pernah beranjak.


"Ashita mo kitto hareru ne,"² bisiknya lirih.


Kalimat itu adalah warisan terakhir istrinya sebelum kanker mengambil napas terakhirnya.


Sejak saat itu, Kenjiro memutuskan untuk berhenti menjadi bagian dari dunia.


Baginya, dunia di luar sana terlalu bising, terlalu cepat, dan terlalu tidak peduli.


Ia berhenti bekerja, berhenti menyapa tetangga, dan perlahan-lahan, identitasnya terkikis hingga hanya menjadi nomor di slip tagihan listrik.


Setiap hari adalah ritual yang sama. Ia akan menyeduh teh hijau yang sudah kehilangan aromanya,


membaca buku sastra klasik yang sudah ia hafal setiap titik komanya, dan menunggu matahari terbenam.


Ia merasa seperti hantu yang masih memiliki detak jantung.


***


Tetangga di sebelahnya, seorang pemuda bernama Sato yang selalu memakai headphone, hanya mengenal Kenjiro sebagai suara langkah kaki yang menyeret di tengah malam.


Di Jepang, privasi adalah emas, tapi dalam kasus Kenjiro, privasi adalah peti mati yang terbuat dari dinding beton.


Bulan berganti, dan tumpukan koran di depan pintu apartemen 402 mulai meninggi.


Kotak suratnya penuh sesak dengan selebaran supermarket yang menawarkan diskon untuk barang yang tidak akan pernah ia beli lagi.


Namun, tidak ada yang mengetuk. Tidak ada yang bertanya.


Lihat selengkapnya