Prolog
Ada jenis luka yang tidak berdarah, tetapi sanggup mengeringkan sumur kehidupan dalam sekejap.
Bagi Nayla dan Gading, luka itu bernama "Kenyataan".
Mereka adalah dua kutub yang dipaksa gravitasi untuk saling tarik-menarik, tapi hukum alam yang lebih besar mengharamkan mereka untuk bersentuh.
Pertemuan mereka di sebuah galeri seni lima tahun lalu terasa seperti rencana Tuhan yang paling indah, sampai rahasia di lemari tua keluarga mereka terbongkar.
Ternyata, cinta mereka tumbuh di atas tanah yang terlarang—sebuah dosa masa lalu orang tua yang baru terungkap saat mereka hendak melangkah ke pelaminan.
Sejak hari itu, dunia bukan lagi taman bermain, melainkan penjara dengan jeruji yang terbuat dari norma dan darah yang sama.
Gading memilih untuk menjauh demi kewarasan, sementara Nayla memilih untuk tinggal dalam keabadian yang sunyi.
***
Lampu meja yang temaram menjadi saksi bisu jemari Nayla yang gemetar saat menyentuh lembaran kertas putih.
Di luar, hujan Januari jatuh dengan ritme yang monoton, seolah ikut meratapi keheningan kamar itu.
Nayla menatap bayangannya di cermin lemari; pucat, dengan mata yang menyimpan telaga kesedihan, namun ada seberkas ketenangan yang aneh di sana.
Nayla mencintai Gading. Sebuah kalimat sederhana yang jika diurai akan menjadi ribuan bab tragedi.
Gading adalah lelaki dengan tawa menyerupai simfoni pagi, namun ia juga adalah pria yang dipisahkan oleh jurang kenyataan yang tak mungkin dijembatani.
Bukan sekadar perbedaan kasta atau restu orang tua yang klise, melainkan sebuah garis takdir yang mematikan:
mereka adalah dua jiwa yang dipertemukan di waktu yang salah, dengan ikatan darah rahasia yang baru terungkap saat janji suci hampir terucap.
Cinta mereka bukan lagi bunga yang mekar, melainkan api yang membakar akar.
Semakin mereka memupuk rindu, semakin besar dosa yang mereka tanggung.
Mereka tahu, jika mereka melanjutkan ini, mereka hanya akan menciptakan kehancuran bagi semua orang di sekitar mereka.
Gading memilih pergi ke ujung dunia untuk melupakan, tetapi Nayla tahu, bagi dirinya, melupakan adalah bentuk pengkhianatan paling kejam terhadap perasaan yang ia anggap suci.
Maka, malam ini, Nayla memilih jalan yang berbeda.
Bukan karena ia membenci hidup, tetapi karena ia ingin membekukan cintanya dalam keabadian, sebelum kenyataan merusak kemurniannya.
Ia duduk, menarik napas panjang, dan mulai menulis.
Bukan untuk Gading, bukan untuk ibunya, tapi untuk dirinya sendiri.
***
Untuk Nayla yang sedang memegang pena,
Halo, Diriku. Bagaimana rasanya bernapas untuk terakhir kalinya dalam kesadaran yang penuh?