Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #5

Percakapan Sepasang Sunyi



"Kadang, bicara dengan dinding hanya akan membuat dinding itu semakin tinggi. Cobalah bicara dengan angin."


"Pengkhianatan yang paling tajam selalu datang dengan pelukan yang paling hangat."



Dunia, bagi Gema, adalah sebuah orkestra kebisingan yang tak memiliki konduktor.


Setiap tawa di trotoar, setiap percakapan basa-basi di lorong apartemen, hingga derap langkah orang-orang yang tergesa, hanyalah frekuensi yang dirancang untuk menguliti ketenangannya.


Ia telah sampai pada sebuah simpulan yang final: manusia adalah pemburu emosi, dan setiap interaksi hanyalah cara halus untuk saling menguras energi.


Maka, pada suatu masa yang tak lagi ia hitung harinya, Gema memutuskan untuk mati tanpa harus menghentikan detak jantungnya.


Ia menarik diri sepenuhnya. Ia mengunci pintu apartemennya, menutup semua gorden hingga cahaya matahari hanya berani mengintip malu-malu, dan membungkam suaranya sendiri.


Sejak saat itu, ia bukan lagi seorang pria dengan nama; ia menjadi gema yang memantul di dinding-dinding kamarnya sendiri.


Kamar itu bertransformasi menjadi Dunia yang Sunyi—satu-satunya kedaulatan di mana ia adalah raja sekaligus satu-satunya rakyat, di mana pikirannya adalah satu-satunya hukum yang berlaku.


***


Bulan-bulan pertama adalah sebuah proses dekomposisi jiwa. Gema belajar untuk tidak lagi menggunakan pita suaranya.


Ia menemukan bahwa kata-kata adalah amunisi yang paling berbahaya; sekali dilepaskan, mereka bisa digunakan orang lain untuk menghancurkanmu.


Baginya, bicara adalah bentuk penyerahan diri yang paling rendah.


Ia menghabiskan waktu dengan menatap bayangan perabotan yang bergeser mengikuti arah matahari.


Di dalam Dunia yang Sunyi itu, pikirannya menjadi sangat luas.


Ia bisa membangun kota-kota imajiner dalam kepalanya, tempat di mana tidak ada pengkhianatan dan tidak ada orang yang akan bertanya, "Bagaimana kabarmu?" hanya untuk mendengar jawaban palsu.


Baginya, setiap orang di luar sana adalah musuh yang membawa belati di balik senyum.


Ia ingat luka-luka lama—saat kejujurannya dijadikan bahan tertawaan, dan saat kerapuhannya dijadikan senjata untuk menjatuhkannya.


Kini, ia membalas dendam dengan cara yang paling radikal: ia meniadakan mereka dari semestanya.


***


Kestabilan dalam Dunia yang Sunyi mulai goyah ketika seorang perempuan bernama Denting pindah ke unit di sebelah balkonnya.


Denting tidak seperti manusia yang Gema benci; perempuan itu memiliki keheningan yang menyerupai miliknya, namun terasa lebih hangat.


Denting sering duduk di balkonnya pada jam-jam yang sama, hanya menatap langit sambil memegang buku tua, tanpa pernah mencoba memecah kesunyian dengan suara.


Lihat selengkapnya