Di atas sebuah bukit yang hanya dihuni oleh angin yang gagap, ada sebatang pohon yang telah lama kehilangan memori tentang akar.
Di dahan yang paling rapuh, seekor Ranting yang berlumut abu-abu sedang menimang sehelai Daun yang warnanya sudah menyerupai karat pada besi tua.
Dunia di sekitar mereka tidak memiliki warna lain selain kelabu.
Langit di atas sana tampak seperti genangan air sabun yang keruh, menggantung rendah seolah hendak menghimpit napas siapa pun yang berani bermimpi.
"Kenapa kau masih bertahan di bahuku?" tanya Ranting. Suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan yang kering.
Daun berdesir pelan, tubuhnya yang tipis bergetar diterpa angin. "Sebab jatuh berarti mengakui bahwa perpisahan itu nyata.
Selama aku masih di sini, kita hanyalah sebuah penantian yang panjang, bukan kehilangan yang selesai."
Ranting tertawa, sebuah tawa yang hanya berupa retakan-retakan kecil di kulit kayunya. "Kau bicara seolah-olah luka adalah sebuah benda yang bisa kita simpan di dalam laci.
Padahal, luka adalah kita. Aku yang kering dan kau yang menguning. Kita adalah monumen bagi segala hal yang pernah hidup tapi lupa cara untuk tetap ada."
"Tapi ditinggalkan itu menyakitkan, Ranting," gumam Daun. "Aku melihat kawan-kawanku lepas satu per satu.
Mereka tidak jatuh ke tanah; mereka seolah-olah dihisap oleh kerongkongan bumi. Hilang. Tanpa suara. Seolah-olah mereka tidak pernah hijau."
Mereka terdiam lama. Di alam surealis ini, waktu tidak berjalan melingkar, melainkan patah-patah.
Kadang matahari terbit dua kali dalam semenit, kadang kegelapan bertahan selama berbulan-bulan.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari menjadi bagian dari pohon ini?" Ranting kembali bersuara.
"Apa?"
"Menjadi saksi," jawab Ranting getir. "Aku melihat air pergi dari pembuluhku. Aku melihat burung-burung yang dulu bersarang di sini berubah menjadi bayangan hitam yang terbang menjauh tanpa menoleh.