Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #7

Cinta Tidak Tumbuh di Tanah Tandus dan Lelaki yang Mati Berkali-kali di Rahim Sepi


Rimba lahir sebagai sebuah catatan kaki yang terlupakan dalam narasi besar dunia.


Ia tidak memiliki memori tentang dekapan hangat seorang ibu atau wibawa suara ayah yang menenangkan.


Baginya, silsilah keluarga adalah selembar kertas kusam di panti asuhan yang hanya bertuliskan nama tanpa garis keturunan, sebuah identitas yang menggantung di awang-awang.


Ia tumbuh besar dengan perasaan bahwa keberadaannya hanyalah sebuah kesalahan cetak dalam kitab semesta, sebuah noktah yang terus-menerus berusaha dihapus oleh tangan-tangan nasib yang dingin.


Ketika ia beranjak dewasa, Rimba percaya bahwa cinta adalah satu-satunya pelabuhan untuk menyanduhkan jiwanya yang compang-camping.


Ia menyerahkan segalanya kepada Raya, seorang perempuan dengan mata sewarna telaga yang ia temui di perpustakaan kota yang pengap.


Rimba mencintai Raya dengan cara seorang pengemis mencintai cahaya; buta dan mutlak.


Ia bekerja melampaui batas kemanusiaan—menjadi kuli panggul yang memanggul beban berkilo-kilo di pasar saat fajar menyingsing,


menjadi pengantar surat yang menerjang debu jalanan di siang hari, dan menjadi penjaga malam yang melawan kantuk saat bulan bertahta.


Semua peluh dan letih itu ia konversi menjadi biaya kuliah Raya, dengan sebuah mimpi sederhana: kelak mereka akan memiliki rumah kecil dengan jendela yang menghadap ke arah matahari terbit.


Namun, dunia tidak bekerja dengan logika balas budi yang adil.


Di hari kelulusannya, Raya tidak datang mencari Rimba yang menunggu di gerbang kampus dengan sebungkus bunga krisan yang ia beli dengan uang makan siangnya.


Raya justru melenggang pergi di dalam mobil mewah seorang lelaki yang mampu memberinya dunia tanpa perlu memeras keringat.


Sebuah surat singkat ditinggalkan di kontrakan Rimba, berisi kalimat yang lebih dingin dari es: cinta tidak cukup untuk membangun istana di atas tanah yang tandus.


Pengkhianatan itu seperti belati yang berkarat; ia tidak hanya melukai kulit, tapi juga meracuni aliran darah hingga ke jantung.


Kehancuran Rimba tidak berhenti di sana.


Pak Tua, seorang gelandangan bijak yang selama ini menjadi satu-satunya kawan bicaranya di kolong jembatan—sosok yang mengajarinya bahwa harga diri tidak terletak pada dompet,


melainkan pada keteguhan hati—meninggal dunia akibat radang paru-paru akut di suatu malam yang menggigil.


Rimba harus menggali tanah pemakaman umum dengan tangannya sendiri yang melepuh, karena ia tidak punya sepeser pun untuk menyewa jasa penggali.


Di bawah hujan yang turun seolah menghakimi, ia mengubur satu-satunya telinga yang pernah sudi mendengar ceritanya.


Kini, Rimba benar-benar telanjang di hadapan kesepian yang absolut.


Beban ekonomi kemudian menghantamnya tanpa ampun, layaknya palu godam yang menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.

Lihat selengkapnya