Petrichor dan Lelaki yang Mati Berkali-kali

Utep Sutiana
Chapter #8

Eksekusi


Langit Hong Kong pagi itu tidak menampilkan semburat emas.


Hanya ada gumpalan abu-abu yang menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti deretan nisan beton.


Di dalam Lembaga Pemasyarakatan Tai Lam, udara terasa mati.


Kelembapan menyelinap melalui celah ventilasi, membawa aroma laut yang asin dan dingin yang merambat hingga ke sumsum tulang Aminah.


Aminah, seorang perempuan berumur tiga puluh dua tahun dari sebuah dusun kecil di pelosok Jawa, duduk bersimpuh di atas lantai semen.


Di depannya, selembar kertas putih pemberian sipir penjara tampak sangat kontras dengan kegelapan hatinya.


Hari ini adalah titik terakhir. Tidak ada lagi banding, tidak ada lagi pengampunan dari gubernur, tidak ada lagi keajaiban.


Ia memegang pena dengan jemari yang kasar—jemari yang selama dua tahun telah menyikat ribuan lantai porselen, memandikan orang tua yang pikun, dan akhirnya, jemari yang terpaksa memegang besi tajam demi mempertahankan harga diri.


Dengan napas yang berat, ia mulai menulis bagian pertama suratnya.


“Gendis, permata hatiku, napas yang sempat Ibu pinjam dari Tuhan.


Saat kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tumbuh sedikit lebih tinggi.


Mungkin kau sudah bisa mengepang rambutmu sendiri tanpa merengek pada Nenek.


Maafkan Ibu, Nak, karena jarak antara kita kini bukan lagi ribuan kilometer laut, melainkan garis tipis antara hidup dan mati.


Ibu ingin kau tahu satu hal: Ibu pergi ke negeri beton ini bukan karena ingin meninggalkanmu, tapi karena Ibu ingin kau punya langit yang lebih luas untuk terbang.


Tapi ternyata, langit Ibu di sini runtuh sebelum Ibu sempat membawakanmu pelangi.”


Aminah meletakkan penanya sejenak.


Ingatannya terseret kembali ke malam jahanam itu.


Malam ketika hujan turun sangat lebat di kawasan Mid-Levels. Majikan prianya, Mr. Wong, pulang dengan bau alkohol yang menyengat, membawa kegelapan yang lebih pekat dari malam itu sendiri.


Istri Mr. Wong sedang berada di luar negeri, dan apartemen mewah itu mendadak menjadi penjara bawah tanah bagi Aminah.


Ia ingat bagaimana pintu kamarnya didobrak.


Lihat selengkapnya