Bab 1 - TERBANGUN DI NERAKA
Razman terbangun dari tidurnya. Tapi kali ini, bukan di tempat tidur yang selalu ia pakai sehari-hari. Bukan kamar tidurnya yang cukup sejuk meski tak memiliki pendingin udara. Razman merasa kebingungan akan tempatnya terbangun kali ini. Panasnya membakar. Bau kotoran dimana-mana. Disekelilingnya, terdapat banyak bangkai binatang- tikus, ular bahkan babi yang bercampur dengan genangan darah dan nanah. Botol-botol minuman, jarum suntik dan juga alat hisap bong berserakan diantara tumpukan bangkai. Ia coba mengingat-ingat beberapa jam sebelum ia tiba ditempat ini.
Terakhir kali dalam ingatannya, ia memasuki sebuah losmen kelas melati untuk menemui seorang perempuan, lalu sejam kemudian tiga lelaki masuk yang dengan sangat kasar memukulinya. Seorang diantara lelaki itu meneriakkan nama perempuan yang mengajaknya chcek in dikamar yang sama, selama dua kali sejak ia mengenalnya. Losmen tua dengan udara yang pengap. AC dikamar itu sepertinya sudah berusia mendekati duapuluh tahun tidak pernah diganti. “Sarmila…Sarmila…perempuan laknat” begitu suara lelaki bertubuh gempal dan brewokan itu meneriakkan nama wanita yang telah memijitnya hingga tertidur pulas, sebelum para lelaki itu membangunkannya secara paksa lalu meremukkan seluruh badannya hingga pingsan.
Badan besarnya seperti tidak punya kekuatan apa-apa saat itu. Padahal sebelumnya, tak seorangpun berani menantangnya. Sebagai bos preman sebuah kartel Narkoba kecil-kecilan, tak ada satupun warga di kampungnya berani menatap wajahnya saat marah. Kekayaannya pun tak cukup untuk meyakinkan orang-orang yang menggebuknya, agar segera berhenti. Di luar semua itu, satu kegemaran Razman, yang disukai warga kampung, ringan tangan menolong warga yang kesulitan, meskipun itu duit dari hasil narkoba, tapi warga tidak peduli. Tapi semua itu tidak berarti saat menghadapi kemarahan suami dan keluarga Sarmila. “Aku hanya ingin dipijit..tidak melakukan apapun terhadap Sarmila” ucap Razman saat mencoba membela diri ditengah kepungan tinju dan tendangan yang menyerangnya.
Dan hari ini, saat ia terbangun, Razman tidak mengerti dimana ia berada. Razman sudah mencubit lengannya berkali-kali. Bahkan menggunakan tangannya yang kekar untuk menempeleng wajahnya dengan keras, untuk memastikan bahwa ia tidak sedang di alam mimpi. Walau begitu, dalam hati ia berharap pemandangan yang ada didepannya, benar-benar hanya sebuah mimpi.
Dari kejauhan, Razman melihat sebuah sosok sedang melambaikan tangan dan berusaha meneriakkan namanya. Seorang lelaki kurus yang wajahnya samar-samar. Razman berusaha melangkahkan kakinya diantara genangan bangkai dan kotoran. Ia kembali kaget, kakinya tidak lengkap. Kaki kirinya hanya sampai lutut, sisanya kebawah berupa tulang putih menjulur hingga ke jari-jari kakinya. Razman mencoba berteriak histeris, tapi suaranya berhenti di tenggorokan, tidak keluar. Razman kembali memandangi sekitarnya. Tak ada cahaya. Sinar kecil hanya muncul dari arah diatas kepalanya berupa kilau kecil. Berbentuk seperti bintang, tapi itu terlalu dekat.
Sementara dikejauhan sana, lelaki yang sejak tadi meneriakkan namanya berusaha terus mendekat. Wajahnya penuh lebam dan dipenuhi bercak-bercak darah dan nanah. Dari jarak kurang lebih sepuluh meter, lelaki itu berhenti. Dengan cepat Razman mengenalinya. Itu Cepot, kurir paling setia di bisnisnya. Tapi, tunggu dulu. Razman kembali dikepung rasa anyir di pikirannya. Ketakutan mulai menyerang bulu kuduknya. “Bukankah Cepot sudah meninggal tiga tahun lalu? Mati ditangan polisi dengan dua peluru bersarang dikepalanya.” isi pikiran Razman bekerja cepat begitu melihat Cepot mulai bergerak lagi mendekatinya.
“Tunggu, Cepot!. Berhenti disitu!”
“Razman…tolong aku…tolong” suara Cepot jelas sekali terdengar. Tangan Cepot terjulur memanjang kearahnya. Jarak yang masih hampir sepuluh meter, tapi ujung tangan Cepot tepat berada didepan wajahnya.
“Tangan ini yang selalu mengantarkan perintahmu…Razman!”
Tangan yang tak terbungkus kulit, tapi hanya berupa kerangka yang memutih itu seperti hendak menerkam bulat-bulat wajah Razman.
“Ini tempat apa Cepot? Mengapa kita berada disini?” Wajah pucat Razman tak bisa ia sembunyikan. Bau amis dan anyir terus merasuki tenggorokannya. Ia seperti meminum dahaknya sediri. Rasanya asin dan kental.
“Narkoba…beri aku barang itu Razman…beri aku. Aku yang memilih tempat ini. Aku tak menyesal bersamamu, asal kau beri aku sekali lagi” suara Cepot seperti berteriak seperti sedang sakau berat.
“Aku tidak punya. Aku sudah memutuskan berhenti sejak kematianmu Cepot. Ya, memang sesekali ada yang mengantarkan kepadaku, tapi aku hanya mengambil sedikit saja, untukku. Aku tidak lagi menjual ke orang lain. Aku menyesal Cepot…sangat menyesal” Dengan nada seperti memohon, Razman menatap wajah Cepot
“Jangan berbohong Razman. Aku tahu disakumu ada” Biji mata Cepot keluar dan dan mendekat menatap langsung wajah Razman.